Tentang Bapakku

Nama bapakku, Usman. Terlahir dari pasangan Sood Basok dan Aisyah H. Arsyad pada tanggal 13 Juli 1946 di Pontianak. Keluarga besar Sood ini memiliki anak yang berjumlah sangat banyak. Adik beradik bapakku itu 11 orang, walaupun tidak semuanya pernah kutemui. Saat ini yang masih ada adalah Fatimah (Mak Ngah/Mak Mong), Nurasmah (Mak Teh), Rosdiana (Mak Yos), Salman Farisi (Pak Man), Nurhakimah ( Mak Cim ) dan Ahmad Yani ( Pak Yan )

Yang lain sudah mendahului kami -yang tidak pernah kutemui adalah kakaknya Mak Cim yaitu almarhumah Agustiah, yang meninggal ketika masih bayi- (semoga ALLAH SWT menempatkan mereka di tempat yang terbaik, aamiiin)

Beberapa dari mereka memang disebabkan oleh penyakit diabetes melitus. Mulai dari tok aki Sood, Pak De Abu Naim, Pak Cik Zulkarnain, dan Pak Su Ahmad Sauqi. Benar-benar penyakit yang senang banget berkunjung ke keluarga ini. Kenapa? Karena bapakku, mak  ngah, pak Man dan mak Yos juga saat ini juga mengalami penyakit yang sama. Semoga anak cucu generasi-generasi berikutnya terhindar dari mahluk DM ini. Aamiiin…

Bapakku kena diabetes pada usia 36 tahun. Jadi sudah berpuluh tahun hidup dengan kondisi pankreas yang tidak bagus dalam memproduksi insulinnya. Sepertinya saat ini penyakit di telinganya berhubungan juga dengan DM ini. Beliau sudah pasrah. Membuat kami cemas. Hingga akhirnya kemaren aku ke Jakarta untuk berusaha menguatkan semangatnya untuk melawan sakit tersebut.

Kembali ke sosok bapakku.

Masa kecil beliau diisi dengan perjuangan berat. Kalau dari cerita beliau dan saudara atau teman kecilnya sungguh sangat memprihatinkan. Maklum saja karena beliau berasal dari keluarga buruh tani dan pelabuhan. Hidup di masa itu sangat susah. Pendidikan adalah suatu kemewahan tersendiri. Wajar jika dari anak-anak aki dan uwan Sood-Aisyah ini harus berjuang untuk bisa sekolah. Dan harus ada pengorbanan yang dilakukan. Mereka terbiasa berjualan kue untuk membantu orang tua. Berkebun dan bertani.

Sekolah juga merupakan salah satu tekad bapakku. Beliau sadar dengan pendidikan yang tinggilah untuk dapat merubah nasib generasinya. Itu yang membuat bapakku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya. Nasib keluarga dengan banyak anak, akhirnya harus ada yang berkorban. Mak ngahku akhirnya harus mengalah untuk tidak bersekolah tinggi. Padahal mak ngah ini pintar. Terbukti sekarang anak-anaknya sarjana, dan salah satu anaknya yang cewek meraih gelar S2. Sepertinya Ulin mewarisi kepintaran dan ‘dendam’ mak ngah. Salut.

Bapakku akhirnya sekolah sampai SMA di SMA Negeri 1 Pontianak (almamaterku dan juga nanti anakku Ratu Natasha Tiar Juventya) lalu melanjutkan ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri di Pontianak. Menurut cerita bapakku, beliau sebenarnya diterima di fakultas Farmasi, namun karena kesulitan biaya dan pertimbangan kerja setelah tamat, maka beliau memutuskan untuk mengambil sekolah yang ada ikatan dinasnya.

Tamat dari APDN tahun 1969, karir beliau pun dimulai dengan dikirim sebagai aparat di tengah pulau Kalimantan, Kapuas Hulu.

==== break dulu ====

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *