Shalat dan Kening Kita

Beberapa minggu belakangan banyak muncul ‘kajian’ mengenai tanda di kening muslimin dan muslimat… Jadi dikatakan sebagai kesalahan dalam shalat… Sebagian mengaminkan… Lantas sharing sejadi-jadinya… Sebagian menolak dan membuat artikel plus meme bantahan…

Perpecahan antar umat seagamapun terjadi… Yang bersorak pastinya setan… Baik setan dalam wujud aslinya maupun setan sebagai wujud lain seperti manusia-manusia di sekitar kita… Manusia itu bisa jadi merupakan orang Islam sendiri, terutama jika otaknya sudah dimasuki logika yang mengalahkan iman…

Umat Islam memang sangat jamak, jadi sebenarnya wajar gampang terpecah belah…

Untuk hal yang remeh temeh saja kita bisa berbeda… Apalagi yang besar… Sedikit-dikit bid’ah yang lain ajaran… Sedikit-dikit bilang kafir, bahkan ke pemeluk agama yang sama… Menyedihkan bukan?

Padahal sebenarnya gak perlu kita teriakkan kafir ini, kafir itu ke orang lain… Karena bagi pemeluk agama lain, kita juga kafir…

Tapi memang kalau soal agama, kita akan sensitif…

Orang yang gak shalat saja jika agamanya dihina pasti bisa kalap dan bahkan lebih ganas dari yang pemahaman agamanya baik…

Fanatisme sudah menjadi bagian dari isi hati dan bathin kita…

So, jika karena masalah kening saja kita bisa bertengkar, di medsos terutama, bagaimana untuk menentukan pimpinan kita dalam skala yang lebih besar?

Tahu khan, kita bisa dipecahkan dengan gampang karena masalah kayak gini…

Ada temanku yang sebelumnya kompak malah akhirnya tak bertegur sapa karena perdebatan tak penting di FB… Untungnya apa? Yang ada adalah kerugian karena tali silaturahmi jadi terputus…

Balik lagi ke masalah jidat…

Kita berprasangka baik saja… Mungkin saja ada yang sengaja menghitamkan jidatnya dengan maksud tertentu… Tapi apa untungnya coba? Malah saya yakin orang yang jidatnya ada tanda hitamnya itu malah kepingin hilang, karena bisa saja menurutnya mengganggu penampilan… Tapi jiwa yang pasrah, menerima kenyataan bahwa bekas itu tetap ada… Bisa dihilangkan, namun pasti akan balik lagi kalau kenyataannya memang seperti itu… Masak dia harus berhenti shalat, agar tanda tersebut tidak kembali?

Saya pribadi punya pengalaman dengan tanda jidat palsu dan asli… Cuma gak usahlah diceritakan di sini… Toh tidak ada untungnya… Hal baik bisa jadi jahat jika memang sudah berburuk sangka… Hal jahat bisa didiperbaiki dengan cara yang baik juga…

Balik lagi ke perasangka… Bukankan ALLAH SWT sendiri menyesuaikan dengan perasangka hamba-NYA? Jadi selalulah berperasangka jelek… Jika itu salah, jika itu aib, simpanlah… Jika kita hendak perbaiki, sampaikan dengan cara yang baik juga… Sebab kembali lagi, jika kebaikan disampaikan dengan cara yang tidak baik, kemungkinan besar akan ditangkap tidak baik juga…

Rendah hatilah ketika memperbaiki orang lain… Seperti kita menghilangkan kesombongan ketika memperbaiki diri sendiri…

Saya pribadi gak akan menghakimi dan berkesimpulan orang dari jidat atau keningnya… Wong saya sendiri masih kesulitan menjaga shalat tepat waktu… Malu saya… Padahal di smartphone ada tuh jadwal shalat 5 waktu… Beruntunglah orang yang menjadikan shalat sebagai kebutuhan… Saya yang lemah ini, seringkali menjadikan shalat itu kewajiban… Malu saya…

Soal ibadahnya, biarlah yang bersangkutan mengerti kualitasnya…

Kita perbaiki diri kita sendiri saja dulu… Keluarga kita lebih utama… Lingkungan kita, harus dengan cara halus juga…

Jadi, sebaiknya stop mengurus kening orang lain… Bukan kapasitas kita untuk itu…

Sebab, coba tanyakan pada diri sendiri; “Sudah benarkah shalatku ini?”

Bukan menyatakan, “Nih, jidatku hitam tanda rajin shalat…” atau “Wah jidatnya hitam, shalatnya tidak benar…”

Yuk, perbaiki diri kita sendiri…

Terima kasih ya… Maaf kalau ada kesalahan kata dan penyampaian…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *