Sembilan Belas

Alhamdulillah…

Tiada yang lain yang bisa diucapkan sebagai rasa syukur kami kepada Sang Maha Esa, Sang Maha Kuasa, dan Sang Maha Cinta…

Hari ini perjalanan pernikahan saya dan istri saya sudah mencapai tahun ke-19… 4 Juli 1998 – 4 Juli 2017…

Banyak cerita yang kami lalui, banyak kisah, banyak suka, banyak cinta, selama ini kami nikmati bersama…

Ada sesekali duka dan airmata, tapi untungnya dengan pengertian dan saling memahami semua itu tidak jadi kami menjadi berkurang cinta dan kasih sayang…

Kalau soal pengertian, jika ada pertandingan khusus masalah ini, saya yakin istri saya yang jadi salah satu kandidat utama pemenangnya… Selama 24 tahun saya mengenalnya, wanita ini memenangkan hati saya karena pengertiannya yang luar biasa…

Soal pengertian ini saya pernah jelaskan di salah satu tulisan saya… Yang membahas lagu cinta kami…

Sebab bagaimana kami berjuang untuk bisa bersama, sesungguhnya cukup unik jika dirangkai sebagai cerita… Namun sekali lagi, hanya saling pengertianlah yang bisa membuat kami tetap bisa berjalan saling bergenggaman, saling merangkul dan seiring berdua…

Berlayar selama 19 tahun itu bukan perjalanan tanpa gelombang dan topan, namun bekal 5 tahun saling mengenal membuat bahtera yang saya nahkodai merupakan sebuah bahtera yang tangguh, walaupun sederhana… Bohong kalau dalam perjalanan kami tidak ada halangan dan badai… Untunglah badai yang menghampiri dapat kami lalui dengan rasa saling percaya dan pengertian, ditambah perekat cinta yang mampu jadi penyeimbang ketika ombak besar datang… Sembilan belas tahun itu berbuah tiga buah cinta yang juga sangat membanggakan…

Saya beruntung memiliki keluarga yang seperti ini… Sangat beruntung…

Istri saya adalah wanita dengan kesetiaan luar biasa, kesederhanaan yang membuat saya nyaman, perangai yang membuat saya bangga, dan kepatuhan yang membuat saya merasa berharga… Istri saya adalah wanita yang bisa mendengar keluh kesah saya, kadang jadi tempat penampung kemarahan saya yang tidak tersalurkan kepada orang-orang yang seharusnya lebih berhak menerimanya… Istri saya adalah orang kedua yang paling mengerti saya setelah emak saya… Dapat dibayangkan bagaimana kacaunya perjalanan jika istri saya seorang yang emosian dan tidak sabaran… Istri saya juga adalah orang yang bisa menasehati saya tanpa membuat saya merasa sedang digurui… Istri saya sangat menghormati saya, terlebih lagi di lingkungan saya… Istri saya istimewa… Tidak pernah menuntut hal-hal di luar kemampuan, ikhlas menerima yang diberikan… Nah ini yang selalu membuat saya merasa saya harus memberikan segalanya yang terbaik yang mampu saya dapatkan… Dan yang terpenting makin ke sini, tingkat kecintaannya pada ALLAH SWT semakin luar biasa… Satu lagi, istri saya sangat menyayangi emak dan keluarga saya… Betapa sangat beruntungnya saya…

Istri saya, Wanita Berwajah Purnama (WBP) bernama Djati Djatnika, inilah yang bisa mendorong saya untuk lebih baik dan lebih ikhlas menerima segala yang menjadi takdir hidup saya…

Anak-anak saya juga dapat dibentuknya menjadi pribadi yang rendah hati sepertinya…

Sembilan belas tahun ini mengajarkan kami sekeluarga bahwa pengertian itu merekatkan segalanya…

Saling pengertian itu yang menjaga sehingga kami terhindar dari cekcok dan pertengkaran yang berkepanjangan…

Alhamdulillah, 24 tahun ini kami bersama, kayaknya tidak pernah ada perselisihan pendapat yang membuat perjalanan kami tidak nyaman… Tidak ada aib keluarga yang diumbar di media sosial dan di kuping para tukang gossip… Tidak ada pula bisikan yang mampu mengganggu keharmonisan kami berumah tangga… Tidak ada kisah piring terbang, sapu melayang, dan kejadian-kejadian aneh yang muncul di kehidupan beberapa orang teman… Karena bagi kami, kepercayaan itu ditumbuhkan, dan kesetiaan itu dirasakan… Bukan sekedar ditampakkan… InsyaALLAH, sembilan belas tahun ini akan berlanjut dengan tahun-tahun berikutnya sesuai komitmen kami bersama…

Bohong kalau sekian tahun bersama tidak ada godaan yang menghampiri… Namun makin matang usia, maka keinginan aneh-aneh itu makin hilang dengan merawat cinta kasih yang dipupuk dengan komitmen dan keterbukaan… Sebab kami yakin cemburu berlebihan adalah malah hal yang bisa membuat lubang di bahtera dan merusak kemudi kapal cinta…

Jujur terkadang masih ada saja muncul keinginan dan keisengan ketika ada kesempatan menghampiri, tapi ya karena sudah bukan masanya lagi dan sudah tahu kekacauan yang akan dihadapi, peluang itu dimatikan sebelum menjadi-jadi… Saya juga merasa sudah gak punya waktu buat hal-hal lain yang tidak berguna dan tidak ada manfaatnya di kehidupan saya bersama keluarga… Yang kenal saya sekian lama akan mengerti ini semua… Itulah mengapa ada beberapa orang yang menghilang dalam kehidupan saya, karena tidak menerima kenyataan bahwa keluarga bagi saya adalah segalanya…

Akhirnya kami, Arief, Djati, Tasha, Ray dan Puan, mohon doa dari pembaca sekalian, agar perjalan kapal keluarga kami sampai ke tujuan yaitu berkumpul di surga bersama-sama… Mohon doa agar bahtera cinta ini berlayar dengan tenang dan nyaman, bolehlah ada gelombang dan banyak persinggahan pengalaman, tapi itu sebagai penambah kebijaksanaan dan pelengkap kebutuhan agar penumpang tidak juga bosan memandang hanya sekedar lautan…

Semoga ALLAH SWT selalu melindungi kita semua dalam perjalanan…

Aamiiin…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *