Sahabat Baikku Itu Bernama Bing

Petualang pemalu itu pergi tiba-tiba. Kabar yang menyentak dari sebuah sms yang kuterima, “Bud, pergi gak ke pemakaman Bing?”

Tersentak aku, mengucap istirja’, kemudian memastikan kabar di group WA alumni yang seminggu belakangan aku acuhkan sebab terlalu banyak intermezzo dan membahas hal yang jika diturutkan hanya mencuri waktu yang memang belakangan menjadi barang mahal di hari-hariku. Ada target yang harus dikejar. Ada kewajiban yang harus diselesaikan. Ada rencana yang harus diwujudkan beberapa saat ke depan.

Kabar itu kayaknya benar.

Dan makin yakin setelah melihat ada 3 misscall di smartphoneku, dari sahabat lama, salah seorang sahabat baik, dan terbukti memang teman yang baik, (namanya Agus Mihardi) karena menyempatkan diri mengabarkan secara pribadi. Aku telpon dia, konfirmasi kepergian sahabatku Bing Poerwanto, di Sintang, walau Agus ini tidak mengetahui pasti sebab meninggalnya Bing. Aku mohon maaf tidak bisa hadir. Aku pikir tidak terkejar waktu juga ke pemakamannya. Beda kalau berita itu aku terima tadi malam, atau baca tadi subuhnya, pasti aku akan berangkat segera.

Cukup menyesal aku tidak menerima telpon karena kondisi tubuh yang malamnya meminta segera di bawa tidur. Cukup menyesal aku tidak cek group WA yang ratusan notifikasinya setelah sharing doa pagi seperti kebiasaanku selama ini. Cukup menyesal aku tidak ada WA personal yang aku terima di hp yang selalu aku pegang. Mungkin teman-temanku berpikir aku baca di group, sehingga tidak ada seorangpun yang mengingat untuk menghubungiku secara pribadi. Hanya seorang sms di hpku yang satunya lagi, sama yang baru kubaca pukul delapan pagi lewat beberapa menit.

Aku lantas menyempatkan diri untuk berdoa, untuk Bing, sahabatku yang merupakan salah satu sahabat terbaikku.

Bing…

Bing Purwanto, Bing Kalis, Bing Lathan…

Almarhum adalah sahabat dari masa kanak-kanak dan masa remaja. Seorang sok ganteng (hehehe, demikian aku menggodanya), jenaka, pemberani, seringkali muncul pemalunya, tulus, royal, loyal, penuh perhatian, setia kawan, dan rendah hati.

Pernah jadi tokoh di cerita bersambung yang aku tulis untuk majalah remaja, namun karena kemalasanku hanya ada 6 yang selesai, kemudian tokoh Bing ini tidak dilanjutkan, melupakan cita-cita awal untuk menjadikannya Si Roy from Kalimantan menyaingi versi Banten karangan Gola Gong 🙂 #susahemangbuatkonsistendanfokus

Banyak kenangan tentang Bing kecil dan Bing remaja ini.

Kenakalan dan keusilannya bisa mengundang tawa dan senyum tiada henti.

Kebetulan emang almarhum orang tua kami berdua sangat dekat dan akrab.

Banyak rahasia-rahasia kecil kami bagi bersama, banyak kisah aib yang kami jalani bersama, gank Mungguk Golkar -dulu kumpulnya di rumah orang tua Bing di simpang kantor DPRD Sanggau lama- yang kompakan mengganggu anak-anak gadis SMA swasta yang lewat (padahal kita masih SMP), beberapa memacari mereka. Masa remaja yang luar biasa.

Masa SMP adalah momen yang tidak terlupakan juga bagi saya. Kalau kumpul-kumpul, biasanya saya akrab dengan gerombolan Bing ini, yang isinya rata-rata memang trouble maker. Seperti misalnya Agus, Eddy Gay (padahal ini orang paling laki, paling normal, paling …………. #PMbuat tahu ), Babah, Kaka, dan Heri. Kami gerombolan kamu ‘tak punya’, kalau dibandingkan dengan geng-geng lain yang anggotanya sudah difasilitasi motor sama orang tua. Kalau malas mereka akan bolos ramai-ramai. Kecuali saya. Sebab dulu saya merasa rugi kalau bolos pelajaran. Nah ntar mereka akan menyontoh PR saya. Pernah ada satu dua guru yang mengkhawatirkan pergaulan saya sama mereka, tapi sebagai remaja mana saya peduli. Yang penting happy.

Balik ke Bing.

Bing ini dari kecil emang pintar gambar. Dari SD. Era komik, dia sudah bikin gambar para pendekar di buku tulisnya. Dia bikin pahlawan barbar di buku tulis saya. Dia bikin lukisan indah di buku teman-teman perempuannya.

Bahkan ketika SMP, saya yang memang hobby menulis cerita, sempat mengajak dia kolaborasi untuk bikin komik. Tapi kembali lagi, karena masa itu Bing masih suka angin-anginan dalam menulis, niat itu hanya sampai di taraf inspirasi semata. Mungkin itu juga yang bikin saya nulis tokoh Bing, ada dendam pribadi di sana, juga romantisme untuk bisa bersama sahabat baik saya ini.

Bing ini memang berjiwa pemberontak dan avonturir. Dari ceritanya ada beberapa hal yang membuatnya demikian. Banyak rahasia dia ceritakan ke saya dan teman-teman. Dengan kami dia bisa terbuka.

Kenakalan masa remaja membuatnya mengenal tembakau di awal muda, mengenal tuak dan arak sebagai minuman resmi, mengenal cinta monyet, mengenal tattoo. Masih ingat saya, ketika dia dengan bangga bercerita membuat tattoo dengan alat seadanya, hanya dengan jarum di punggung tangannya.

SMA kami terpisah, sesekali akan bertemu jika dia main ke Pontianak. Sedang saya emang bisa dikatakan tidak pernah main-main ke Sanggau lagi.

Ketika kuliah, benar-benar lost contact, hanya beberapa cerita saya dengar dan dia dengar tentang masing-masing.

Tapi selama apapun berpisah, saya tidak akan melupakan Bing. Sosoknya tetap sama, tidak berubah sama sekali.

Saya bertemu kembali sama Bing ini saat saya kembali ke Pontianak, masa itu adalah masa ketika Bing mengaku sempat kehilangan arah. Tapi cita-citanya tetap sama. Ingin jadi pelukis, hidup sebagai seniman, hidup dari karya gambarnya. Saya mengamati perkembangan lukisannya. Beberapa kali berubah kiblat dan media. Sampai akhirnya saya suka ketika dia istiqamah menyalurkan bakat luar biasanya di goresan rapido, seperti masa remajanya dulu.

Ya, ketika saya menggunakan uang untuk membeli buku Lima Sekawan dan sejenisnya, Bing ini menggunakan buat membeli rapido yang susah mencarinya di Sanggau dan tentu saja mahal harganya. Tapi seniman mana peduli harga?

Kemudian dia memberitahu saya, dia akan ke Bali. Petualangannya yang luar biasa di Bali pun saya terima di cerita-cerita kami di warung kopi, atau di rumah sambil saya sodorkan minuman beralkohol kesukaannya. Dan inilah sepertinya yang membuat beberapa penyakit lebih cepat menghampirinya. Mestinya tidak saya biarkan dia mengkonsumsi Jack Danniels dan teman-temannya yang dulu sering ada di lemari minuman saya. Tapi memang Bing ini senang sekali minuman seperti ini. Saya ingat dia rela meminjam hip flask saya untuk isi ulang minuman tersebut. Keren nih, hip flask di simpan di kantong belakang celana jeans, demikian ujarnya. Sebagai sahabat yang baik saya mengijinkannya.

Pertemanan kami terasa dekat lagi ketika saya sudah kembali di Pontianak setelah 10 tahunan merantau di tanah Jawa. Setiap dia ke sini, pasti dia menyempatkan diri mengunjungi saya, sekaligus menjarah isi botol minuman saya. Yang walau saya sudah lama sekali berhenti koleksi, tetap saja ada teman-teman yang mengirimi. Setelah itu saya bilang ke Bing, saya gak punya minuman api lagi, sebab saya cemas dengan ceritanya kalau kesehatannya mulai memburuk. Saya ingat terakhir yang ditenggaknya adalah Bacardi. Komentarnya, ringan ini Bud. Hahaha.

Kita ngopi saja, Bing.

Dari warung kopi mengalirlah makin banyak cerita. Tentang mimpinya pameran tunggal. Tentang kesuksesan dan kegagalan. Tentang habitat sesungguhnya seorang seniman yang nyata-nyata bukan di barat Kalimantan ini. Tentang romantisme keilahian. Tentang kenyataan yang ditutup rapat-rapat dari permukaan. Tentang selentingan yang beredar di teman-teman. Tentang cinta yang dia simpan kepada beberapa perempuan. Tentang cita-cita memiliki bisnis bersama. Tentang segala tentang.

Disaksikan gelas-gelas kopi cerita itu menyeruak melepaskan malu dan tabu.

Bing ini adalah seorang pemalu, terutama untuk bercerita soal isi kantongnya. Tapi sama aku dia lebih terbuka. Aku ingat ketika dia bilang butuh hp pakai kamera. Sempat kutemankan membeli hp tersebut. Sekali beli, tidak lama kemudian ada berita dia tak punya lagi. Ke Pontianak, kutemani membeli lagi dengan uang dari hasil menjual lukisan terbaiknya ke suami teman lama kami di SD dulu.

Lalu ada cerita dia bingung menginap dimana? Berbinar matanya ketika kutawarkan menginap di sebuah hotel ternama. Serius Bud? Jiwanya yang sederhana menganggap kemewahan adalah hal yang mengada-ada. Enjoy your time, bro. Demikian saat itu jawabanku. Tapi setelah itu jika dia ngomong butuh tumpangan, dan dia tahu aku gak akan pernah membiarkan dia nginap di rumah (pernah sekali saja di sofa) maka dia akan meminta aku siapkan kamar di hotel low budget. Aku nih biase ngelampar di terminal, Bud. Ah, mana bisa kubiarkan teman baikku beristirahat tidak nyaman.

Dan pada dasarnya Bing adalah sahabat yang tidak banyak gaya. Mudah kutebak seleranya. Kalau dia mau belanja, pasti aku diajaknya sebagai komentator atas pilihannya. Sepatu dan celana jeans. Pernah ketika banyak uang dia beli celana dengan merk, model dan warna yang sama berhelai-helai. Dan dia orang yang cuwek untuk langsung mengenakan barang yang dibeli dan disukainya langsung setelah dibayarnya. I like your style, bro. Cuma lucunya barang yang dia suka sepertinya tidak pernah bertahan lama. Entah diberikannya kepada teman yang menginginkan, mungkin saja karena kebaikan hatinya. Pernah juga dia bilang sepatu mahalnya dia jual karena butuh uang buat beli cat untuk melukis. Kalau ada uang dia akan beli lagi barang sejenis. Kalau lagi banyak pemasukan, dia pasti akan memintaku jadi guide menikmati pijat atau refleksi yang nikmat. Pijat benaran ya, bukan pijat aneh-aneh.

Bing, seingatku dia bisa tersipu-sipu malu jika kukenalkan dengan teman-teman perempuanku yang cantik, ada yang kutawarkan jadi model lukisan, tapi karena dia bukan pelukis model, dia cuma cengengesan malu. Tak bise aku, boy. Gitu katanya. Dan ketika para perempuan itu mulai mencoba ngobrol akrab, Bing dengan jaim dan gaya di cool-coolin, akan menjawab singkat dan senyum-senyum semata. Tapi Bing gak akan malu dan ragu buat menyuruh aku keliling toko-toko di Jakarta untuk mencari cat lukis kebutuhannya dulu. Naik turun bus kota aku dibuatnya.

Bing, I miss you bro…

Masih jelas gimana gusarnya aku ketika Februari dulu kau tak datang reunian kita, padahal dua hari sebelumnya jelas-jelas berjanji akan hadir. Sehingga ketika bertemu setelah itu, kuomelin dirimu.

Dan yang buat aku menyesal adalah 2 kali kehilangan kesempatan bertemu. Dua kali pameranmu. Sekali aku datang dan menunggu, engkau tak muncul-muncul. Yang terakhir aku tak sempat mengunjungimu padahal sudah diwanti-wanti Wendy buat melihat ‘kondisi’mu.

Ah…

Dan sekarang engkau pergi Bing. Tidak cuma aku. Belasan, puluhan orang merindukan kehadiranmu di jamuan kopi mereka.

Aku juga kehilangan teman bersakat, kadang berdebat.

Yang tenang di sana kawan.

Nikmati kopimu, sambil menunggu kami (yang biasanya memang suka terlambat tiba di warung kopi) berada di dunia yang sama dengan kamu.

Selamat jalan sahabat, selamat jalan Bing.

Tulisan ini aku buat sebagai tanda cinta yang besar padamu.

Be good, bad boy…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *