Putussibau, Masa Kanak-kanakku

Mumpung masih pengen nulis dan ada waktu…

SD pertamaku dulu di Putussibau adalah SDS Karya Budi. Gak lama, karena naik kelas 2 aku pindah ke Sanggau. Di Sanggau lebih lama dan sudah lebih besar, maka lebih banyak yang aku ingat tentunya…

Jadi yang aku ingat di Putussibau ini hanyalah sekolahku, sebuah gereja, jembatan yang di bawahnya mengalir air yang jernih, dan seorang teman cewek bernama Emma (or Irma, or Erma, something like that lah) yang usianya kalau tidak salah 2-3 tahun di atasku (ada yang tahu dia ada dimana?)…

Juga teman-teman bapakku yang sudah menjelma menjadi saudara… Seperti Om Fattah dan Om Daeng… Juga almarhum Om Abang Ramli (semoga ALLAH SWT menempatkan beliau di tempat orang-orang baik)…

Sampai sekarangpun tetap berhubungan… Dekat… Om Fattah ini ayahnya Lolo, sedangkan Om Daeng punya anak yang bernama Iip, yang sampai hari ini tetap kontak sama aku dan adik-adikku…

So, jujur aku bilang aku blank sama Putussibau ini…

Terbayang sih, gimana kami mancing di teras depan rumah kalau banjir berkunjung… Untunglah rumah dinas bapakku itu model rumah panggung, jadi seingatku air tidak sampai masuk ke dalam rumah…

Yang terbayang juga adalah motor andalan bapakku yang berplat merah… Honda apa Yamaha ya? Kayaknya sih Honda CB (konfirmasi dari Pak Yan, Yamaha warna merah)… #myoldbrain

Juga aku ingat main-main ke hutan, ngumpulin keranji, baik yang asem maupun keranji madu… Hunting buah yang mirip walnut… Terus buah-buahan hutan yang bisa dimakan… Cengkodok (apa ya nama lainnya?) yang bikin lidah jadi ungu… Oh iya, termasuk berburu burung dengan ketapel, dulu aku lumayan jago…  Mandi di sungai yang jernih… Nangkapin anak-anak udang yang langsung dimakan karena manis rasanya… Mancing… Bikin senapan bambu… Bikin sumpit… Ah, indah memang hidup anak dulu tanpa gadget…

Seingatku dulu teman mainku anak-anaknya Om Fattah yang lebih tua daripada aku… Abu? Bacok? Eh atau anak-anaknya almarhum Om Abang Ramli ya? Yang tau nama-namanya Pak Man… Hehehe… Nantilah ditanyakan…

Jadi menjelajah hutan di sekitar tuh sudah mainan kami semua… Sampai emak kadang khawatir… Cuma memang aku gak kenal takut, tetap saja main ke hutan walau sudah ditakut-takuti emak atau Uwan Mahni (almarhumah, emaknya emakku)… Rasanya senang sekali… Lihat burung-burung… Macam-macam hewan… Sayangnya gak punya alat untuk merekamnya… Terkadang bisa ditemui rusa di pinggiran hutan… Penampakan beruang… Seru…

Apalagi ya?

Pengalaman yang sampai kini aku ingat juga adalah pengalaman “traumatis” yang berhubungan dengan kegiatan di SDku… Saat itu memang hanya ada satu sekolah itu di sana atau mungkin bapakku punya pertimbangan lain karena alasan lokasi… Yang pasti di sinilah aku belajar untuk pertama kali secara formal… Kalau membaca menulis, menurut emak, bapak dan kerabat yang lebih tua, usia 3-4 tahun aku sudah bisa…

Jadi ceritanya, karena SDku itu SD Swasta milik yayasan Katolik… Jadi aku waktu kecil cukup fasih berdoa dengan cara Katolik… Gampanglah ngapalinnya…

Nah, suatu ketika ada semacam kebaktian yang diadakan di gereja yang menaungi SDku itu… Kami dikumpulkan…

Aku yang gak ngerti apa-apa ini ikut bergabung di dalam gereja… Mungkin itu kali pertama aku masuk gereja… Lumayan besar deh, untuk ukuran anak kecil dari kampung ini… Awalnya berlangsung tanpa hambatan… Sampai akhirnya kami dijejerkan dan berbaris untuk berjalan menuju pastur dan guru di depan… Aku memperhatikan, tiap-tiap anak yang berada di depanku membuka mulut dan kemudian pastur tersebut memasukkan sesuatu ke dalam mulut mereka… Sepertinya roti… Mungkin ada yang bisa jelaskan apa ini? Hehehe…

Makin lama makin dekatlah barisanku ke arah pastur ini…

Penasaran, aku bertanya pada teman di depanku…

“Eh itu apaan sih, bro?” kayak-kayak gitulah pertanyaannya kalau diversikan saat ini… Hehehe…

Dan aku ingat sekali temanku itu menjawab (sayang aku gak ingat namanya); “Itu tanda kamu menerima Yesus, kamu jadi Katolik.”

Yang lain juga ditanya menjawab hal yang sama…

Huaaaaaaaa…

Tubuh kecil kurus kerempeng ini jadi gemetaran…

Si Budi yang gak ngerti apa-apa ini menggigil…

Takut pindah agama… Takut dimarahin bapak sama emak… Takut dimarah ALLAH SWT…

Bimbang…

Makin dekat… Makin dekat… Makin dekat…

Sepertinya keringat mulai menetes di dahiku…

Sekitar beberapa meter mendekati pastur… Aku keluar dari barisan, dan berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar gereja…

Aku berlari pulang… Lupa apakah aku menuju kantor bapakku atau langsung lari menuju rumah…

Dalam hatiku hanya ada tekad, aku gak mau pindah agama…

Serius, malamnya aku mimpi buruk dan besoknya demam dan tidak sekolah…

Kepolosan anak-anak…

Padahal mungkin saja keterangan teman-temanku salah…

Mungkin saja guru memilih siswa yang diberikan roti tadi…

Ah…

Nanti aku mau kunjungi lagilah gereja ini… Kayaknya sudah bagus tidak seperti dulu…

Namanya? Aku lupa… Hehehe… Mungkin Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB)

Satu lagi yang aku ingat…

Tranportasi dari Pontianak ke Kapuas Hulu selain menggunakan jalur sungai dulu juga bisa dengan jalur udara…

Jalur darat? Kayaknya butuh perjuangan lebih berat pada masa itu…

Pakai pesawat yang kayaknya Cessna tipe C.212 gitu deh, yang penerbangannya bisa membawa 12 orang… Terbang di atas menyusuri sungai Kapuas…

Suatu ketika bapak membawa emak, aku dan Awan untuk pulang ke Pontianak… Ternyata pesawat itu membawa juga pasien yang harus dioperasi di Pontianak… Kalau tidak salah pasien itu cedera pada matanya karena salah sasaran senapan lantak… Jadi kami sekeluarga bersama beberapa orang dan pasien tersebut diangkut dengan pesawat tersebut…

Senang dong kami naik pesawat… Kayaknya itu kali pertama kami naik pesawat deh… Hehehe…

Kalau masih anak-anak rada norak gak apa-apa khan?

Banyak pertanyaan kami ajukan, dan yang sudah pasti adalah perubahan cita-cita… Yang dulunya pengen jadi dokter jadi pengen jadi pilot… Belum lagi pertanyaan konyol tentang kondisi pasien yang sepertinya memang dibius hingga tertidur…

“Orang itu sudah mati ya, Pak?”

“Kita terbang sama mayat ya, Pak?”

“Nanti jadi hantu dong.”

Singkat cerita pesawat berangkat…

Di tengah perjalanan pesawat terganggu oleh cuaca yang tidak bersahabat… Pesawat kecil itu seolah dipermainkan angin dan awan…

Si polos Budi dan Awan ini malah merasa asyik-asyik saja kayak naik ayunan…

Emak sudah berdoa… Bapak berkali-kali mengucap istighfar… Kami yang dipangku malah tetap riang…

Penumpang lain juga sudah panik… Berdoa dengan keyakinan masing-masing… Ada yang muntah karena tak tahan terombang-ambing… Semuanya takut…

Aku yang masih tetap gak ngerti apa-apa sama adikku Awan tetap gak mau diam…

Bapakku berusaha membuat kami tenang…

“Diamlah… Ini pesawat lagi susah dikemudikan pilotnya…” Demikianlah kira-kira kata bapakku…

Sejenak kami diam… Dan memang menurut emakku saat itu kondisi cuaca di atas Sintang atau Sanggau sangat buruk… Pesawat terhempas angin dan hujan… Penumpang-penumpang makin stress ketakutan… Semuanya makin kencang berdoanya… Tuhan terasa sangat dekat…

Lalu entah kenapa, aku dengan santainya berujar, “Pak, coba pesawat kita jatuh ya… Dan kita mati semua…”

Semua mata penumpang langsung tertuju kepadaku, ada yang melotot marah… Dalam hati pasti ada yang menyumpah, busyet ini anak mulutnya gak makan sekolah…

Dan cubitan emak mampir ke pahaku menyuruh diam…

Rasa sakit itu membuat aku dan Awan bisa diam di sisa perjalanan…

Untungnya tidak berapa lama kondisi cuaca membaik, dan pilot yang hebat itu bisa menerbangkan kami dengan selamat ke Pontianak…

Makasih pak pilot… Maafkan kami para penumpang…

Cukup dulu ya celotehku…

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *