Pindah Kuadran, Dari Kelas Karyawan Menjadi Kelas Juragan

Kini ada tren : demi mendapatkan penghasilan yang lebih besar, banyak karyawan yang pindah kuadran merintis usaha sendiri. Demi impian untuk mendapatkan financial freedom dan time flexibility.

Sayangnya, banyak yang melakukannya hanya semata karena nafsu, dan bosan dengan pekerjaannya (plus gaji yang tak seberapa). Akibatnya : tak sedikit yang gagal, dan malahan dikejar-kejar debt collector.

Berdasar pengalaman pribadi dan observasi personal, saya melihat ada dua elemen kunci yang akan meningkatkan peluang sukses saat Anda mau pindah kuadran : dari kelas karyawan menjadi kelas juragan.

Mari kita lacak dua faktor itu, sambil menikmati secangkir kopi panas di meja.

Penentu Sukses Pindah Kuadran # 1 : Berbisnis pada Area yang Sama/Dekat dengan Pengalaman Kerja.

Saya melihat ada banyak kasus dimana seseorang sukses pindah kuadran, karena ia menekuni bisnis yang sama dengan saat ia bekerja sebagai karyawan/manajer. Begitulah kita melihat, ada mantan manajer kios KFC yang kini sukses besar menjalani usaha jualan fried chicken lokal.

Tempo hari ada teman yang dulunya bekerja sebagai manajer di bidang pemasaran digital (digital marketing), sukses saat ia membangun sendiri bisnis di bidang yang sama – jualan jasa konsultasi digital marketing.

Pengalaman saya sendiri seperti itu. Genap 14 tahun lalu saya resign, untuk memulai membangun usaha sendiri. Di bidang apa?

Tentu, saya memilih dalam bidang usaha yang memang saya geluti selama saya menjadi karyawan – yakni di IT dan Telekomunikasi.

Menekuni usaha dimana kita sudah memiliki pengalaman, memberikan keuntungan berupa : tahu peta bisnisnya, paham jalur pemasarannya, dan mungkin juga jaringan supplier yang ada di dalamnya.

Penentu Sukses Pindah Kuadran # 2 : Coba Dulu, Kalau Sukses, Baru Resign dan Teruskan.

Cara kedua ini artinya, bahkan usaha yang mau dirintis itu sudah coba dijalani dulu saat Anda masih menjadi karyawan. Istilahnya menjadi “amphibi” – double kuadran. Bahasa lainnya : moonlighting atau ngobyek.

Cara ini saya kira salah satu pilihan untuk meminimalkan risiko. Di sela-sela kesibukan kerja, kita mungkin bisa mengajak partner untuk mencoba menjalani bisnis yang akan kita tekuni.

Jika ada tanda-tanda sukses, kita bisa resign, lalu fokus membesarkan bisnis itu. Jika gejalanya menunjukkan arah kegagalan, setidaknya kita masih punya penghasilan dari gaji karyawan (tidak sampai harus jual motor demi uang makan buat anak istri).

Tempo hari saya ngobrol dengan seorang kawan. Ia sudah menjadi manajer senior di sebuah perusahaan multinasional. Karirnya mapan dengan gaji yang menjulang.

Namun ia bilang akhir tahun ini mau resign. Kenapa ia akhirnya memutuskan resign?

Ternyata teman saya itu selama ini sudah melakukan proses “moonlighting” – memanfaatkan hari Sabtu yang libur untuk memulai bisnisnya – yakni di bidang pelatihan untuk topik yang amat dia kuasai.

Beberapa kali ia menjual training publik di hari Sabtu, dan pesertanya selalu padat. Tiap kali itu pula, ia bisa mendapat keuntungan bersih yang amat memadai.

Ia melihat market untuk jasa trainingnya lumayan besar, dan ia terbukti sudah bisa mendapatkannya. Proven business.

Maka, ia memutuskan untuk menekuni usaha di bidang training itu. Karena setelah di uji coba selama beberapa kali, ada tanda-tanda kesuksesan.

Apalagi jika ia fokus total mencurahkan waktu untuk membesarkan bisnisnya itu.

DEMIKIANLAH, dua faktor kunci yang bisa membuat peluang sukses pindah kuadran menjadi lebih tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *