Pengalaman Seru Mendadak Jadi Pemain Film

Semua berasal dari sebuah pesan inbox dari Tezar Haldy pada pertengahan Agustus 2016, isinya mengajak saya terlibat di sebuah film pendek garapannya. Haldy ini memang seorang sutradara yang saya kenal beberapa kali menyutradarai Video Klip untuk penyanyi lokal Pontianak, pernah juga membuat Video Klip untuk Ghaitsa Kenang, penyanyi jebolan Rising Star Indonesia. Bakat bang Haldy ini luar biasa. Coba saja lihat di channel youtubenya, HALDREAM STUDIO. Kalian akan temukan beberapa sitcom garapannya yang saya yakin jika digarap lebih serius tidak akan kalah dengan yang ada di televisi nasional.

Awalnya saya pikir bercanda dan cuma tampil selintas sebagai pemanis atau pemahit film. Hehehe. Tapi setelah saya mendapat treatment cerita saya ternyata kebagian peran sebagai bapak dari pemeran utama. Jadilah saya sebagai pemeran pembantu di film itu.

Judulnya Life is Moments.

Ceritanya diambil dari kisah perjalanan hidup seorang pengusaha properti bernama Harry Afandi, seorang dengan masa lalu yang menyedihkan dan akhirnya berhasil bangkit menggapai cita-citanya. Beliau inilah yang menjadi Executive Producer di film garapan sutradara berbakat Tezar Haldy. Setelah membaca ringkasan cerita, saya beranggapan film ini menarik untuk dibuat dan saya memutuskan untuk mau terlibat.

Jadilah saya aktor dadakan.

Kalau soal film sih sebenarnya bukan hal asing bagi saya. Sejak remaja saya sudah suka nonton film dan membahas film. Keterlibatan secara langsung di film juga lumayan banyak. Namun tidak pernah sebagai aktor atau pemain film. Mungkin lebih karena saya gak merasa bisa akting, dan cuma bisa menikmati akting bintang film yang selama ini saya tonton. Biasanya saya hanya mengurus cerita dan script, pernah juga dua kali menyutradarai film pendek dan editor beberapa film dokumenter atau pesanan klien saya.

Dibayar gak, Rief? Mungkin ada yang bertanya. Jawabannya dibayarlah, cuma jangan tanya nilainya. Cukuplah bayarannya kemaren itu untuk shopping dan jalan-jalan. Hehehe. Bayaran saya ternyata sama dengan bayaran aktor kawakan luar negeri untuk setiap episode serial, cuma beda mata uangnya. Hehehe.

Padahal saya gak mengharapkan bayaran sih. Bisa terlibat saja sudah bagus. Bertemu dengan insan-insan kreatif dan motivator seperti mereka yang sudah saya sebutkan di atas, sudah merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya.

Di penghujung September shooting dimulai, memang kerjanya serba cepat. Tapi salut sama kru film ini. Mereka sudah bikin tim yang kerjasamanya layak diacungin jempol. Sudah ada koordinator artis segala. Jadi para pemain dibuat nyaman sehingga tidak muncul mood yang bisa menghancurkan konsentrasi dalam berakting. Belum lagi dengan keikutsertaan Sugih sebagai DoP, Pawadi Jihad yang sudah malang melintang di perfilman Pontianak sebagai asisten sutradara, semuanya mendukung kerja yang profesional. Beberapa nama kreatif lainnya juga ikut membantu hingga suksesnya film ini.

Dan ternyata berakting itu susah-susah gampang, terlebih dengan Haldy yang termasuk perfeksionis. Gak gampang buat dia puas dengan dua tiga kali take gambar. Saya yang kebagian akting marah-marah melulu terpaksa harus mengeluarkan energi lebih untuk mengeluarkan murka yang lebih besar. Padahal menurut saya saya sudah habis-habisan mengingat cara marah saya kalau di rumah atau di kantor sama karyawan. Sampai anak saya yang beberapa kali saya marahin saja bilang ayah kelihatan seram ketika mengusir Hans. Kawan-kawan saya pun memberikan respon yang sama. Bahkan ada yang gak pernah lihat saya marah cukup kaget, sebab saya kalau marah cenderung biasa saja, kalau sudah sangat marah malah diam seribu bahasa. Sambil ngokang senapan, tapinya. Hehehehe. Jangan bikin saya marah deh.

Salut juga sama akting Jepank aka Andi Wicaksono. Bagus dia mainnya. Total. Mungkin karena dia sudah beberapa kali berakting. Yang paling terkenal adalah di video klipnya Wai Rejected, Take Me Now. Demikian juga akting natural dari Lili Gautama dan spesial banget si ibu penjual susu yang diperankan oleh Yanice.

Film yang banyak mengambil lokasi syuting di Singkawang ini membuat saya berkesempatan dan kemudian berteman baik dengan inspirator dan penyandang dananya, Bapak Harry Afandy. Benar-benar suatu kesempatan berharga bisa bertemu orang seperti beliau. Masih muda, tapi bisa memberikan inspirasi bagi banyak orang. Bahkan bagi saya, beliau bisa merubah mindset saya untuk siap terjun total ke dunia bisnis. Merubah quadran tempat saya menetap selama ini. Dari pengusaha muda pengagum Tung Desem Waringin yang sukses dengan usaha propertinya ini saya belajar banyak. Bahkan akhirnya saya berkesempatan untuk berjumpa langsung dengan ayahnya yang saya perankan di film Life is Moments ini.  Thanks Pak Harry. Berharap persahabatan kita bisa berkelanjutan.

Cukup lama film ini masuk dapur editing, karena kesibukan sutradara dan editor yang harus dimengerti. Mereka berdua, Haldy dan Rivardo adalah anak muda kreatif dengan jadwal padat di kegiatannya. Para pemain dan produser tentu saja menanti dengan sabar. Bonus tambahan soundtrack film ini keren sekali!!!

Alhamdulillah akhirnya versi lengkapnya rilis juga di Youtube.

Yang membahagiakan saya, masa penantian itu tidak sia-sia. Seolah jadi kado spesial di hari jadian saya sama istri saya. Tanggal 31 Mei 2017 bertepatan dengan tanggal pernyataan cinta saya diterima oleh istri saya yang selalu menjadi pacar saya selama 24 tahun ini. Terima kasih, Haldy.

Yang penasaran ingin nonton akting saya, silahkan menikmati di link di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *