Pak Man dan Sapi, Pak Man dan Stip Wangi

Kisah ini terjadi ketika aku di kelas 1 SD, kalau gak salah.

Seperti yang pernah kusinggung, aku punya seorang paman, adik bapakku yang bernama Salman Farisi, SPd yang sekarang menjadi kepala sekolah di salah satu SMP di Kabupaten Kubu Raya.

Pamanku ini orangnya baik hati, nyaris gak pernah marah. Ya, selama beliau tinggal sama bapakku di awal-awal karirnya sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa aka guru, kayaknya gak pernah dia ini marah atau ngomel. Beda dengan Pak Cik (almarhum, semoga ALLAH SWT memberikan tempat yang layak di sisinya) atau Pak Yan yang cenderung lebih temperamental. Pak Man ini lebih suka bergurau walau tidak sekonyol almarhum Pak De Abu Naim (semoga ALLAH SWT membalas semua amal kebaikannya). Untuk masing-masing pamanku aku punya cerita sendiri-sendiri. Cerita ini aku tulis karena request dan diingatkan di group BBM keluarga.

Back to the story…

Jadi ceritanya Pak Man ini setelah selesai pendidikan (ntah apa, ntar beliau yang akan jabarin kalau sudah baca) disuruh bapakku yang baik hati itu untuk tinggal bersama beliau dan kami di Putussibau… Alasannya ya karena siapa tahu bisa dimasukkan kerja di sana… Dan kayaknya memang karir Pak Man ini dimulai di Kapuas Hulu… Juga karena bapak sebagai abdi negara yang suka ditugaskan kemana-mana, dengan adanya adik-adik beliau di rumah adalah yang menjaga kami…

Pak Man ini bisa dibilang sebagai yang terganteng di keluarga bapakku, at least menurut dirinya sendiri sih… Aku ingat beliau suka membandingkan dirinya dengan sosok Simon Templar di serial The Saint yang dulu tayang di TVRI… Gaya dulu Pak Man ini, kemana-mana pake sweater turtle neck… Hehehe… Atau kalau dengan artis nasional suka membandingkan dirinya dengan Tommy J. Pisa yang terkenal dengan lagu Di Batas Kota Ini

Ya, pokoknya Pak Man ini salah satu paman terbaik deh… Tanya saja sama adik-adik dan sepupuku…

Ada 2 cerita yang saat ini aku kenang dari beliau…

Yang pertama adalah cerita tentang Pak Man dan Sapi…

Kenapa sapi? Hehehe… Bukan karena pak mudaku ini pernah naksir sapi ya… Hehehe…

Jadi ceritanya, bapakku di Putussibau dan Sanggau dulu suka beli sapi untuk dipelihara… Kebetulan rumah di Putussibau dulu tidak ramai, sampai sekarang juga kayaknya di Kapuas Hulu masih sepi, jadi bisalah memelihara sapi dengan leluasa tanpa banyak protes tetangga. Tau sendiri khan bau sapi dan kotorannya itu seperti apa…

Jadi biasanya yang urus sapi ini adalah adik-adik bapak yang tinggal bersama kami… Salah satunya yang paling rajin itu Pak Man ini…

Suatu ketika salah satu sapi yang diasuhnya (hahaha) kayaknya lagi galau dan rada rewel… Diatur gak mau… Ngambek… Sama Pak Man ditarik-tarik… Kayaknya sapinya gak terima… Berontak, terus kejadianlah dimana kaki Pak Man diinjak sama sapi itu…

Wadoooow, yang diinjak pas di jari jempol kaki beliau… Luka… Pak Man berteriak-teriak seperti di film-film kungfu yang suka ditontonnya… Hehehe…

Luka itu terkena lumpur pula… Bayangkan infeksi yang dihasilkannya…

Nah, setelah beberapa hari, luka itu mengering, namun meninggalkan trauma yang membekas… Pak Man jadi punya kenangan dan ‘peninggalan’ indah…

Apa itu?

BIKU.

Sejak saat itulah pamanku ini memiliki biku di kakinya. Ada yang tidak tau biku? Apa ya bahasa Indonesia-nya?

Pokoknya biku/bikuk itu adalah kondisi dimana kuku pecah dan luka, yang mengeluarkan bau yang luar biasa tidak enak untuk dicium oleh hidung kita… Mual dan bikin muntah… Kalau mau tahu gimana aroma biku? Bisa bertanya pada adikku Awan, yang sepertinya dahulu terpesona oleh bau biku Pak Man ini…

Ada cerita dimana dia terbangun dari tidur karena posisi kepalanya pas menghadap kaki Pak Man yang mengeluarkan harum neraka tersebut… Hehehe…

Sampai sekarang pun sepertinya cacat akibat sapi itu masih ada… Ntahlah, apakah masih mengeluarkan aroma biku atau tidak… (ntar kuminta Pak Man photoin jempolnya itu)

Satu lagi adalah cerita soal stip… Kalau yang ini berhubungan dengan aku…

Kalian tau apa itu stip?

Kalau yang seusiaku pasti mengerti apa itu stip. Stip adalah istilah orang dulok-dulok untuk menyebut penghapus. Kalau gak salah aku dapat istilah ini dari Uwan Aisyah… Atau Tok Sood… (Semoga ALLAH SWT mempersatukan mereka berdua dalam kasih sayangnya di ‘sana’)

Setelah google ternyata stip itu memang kata asli Jawa untuk penghapus.

Dulu waktu pertama kali SD yang bikin aku terpesona adalah benda bernama stip ini… Bentuknya yang lucu, warna cerah dan kenyalnya itu asyik sekali untuk dipegang/dimainkan…

Dan yang terutama aku suka dari stip itu adalah wanginya yang seperti aroma bubble gum…

Nah Pak Man ini adalah paman yang baik dan lucu… Dengan stip ini beliau suka menghiburku dan Awan… Saat itu Eva masih bayi… Apa yang dilakukan dengan stip itu? Nah, Pak Man ini adalah Deddy Corbuzier pertama yang aku kenal… Maksudnya, Pak Man ini dulu suka main sulap… Trick doang sih… Dengan kartu atau ya dengan stip tadi…

Stip itu di tangannya bisa menghilang… Dan kemudian muncul kembali…

Stip itu seolah-olah ditelannya, kemudian bisa muncul dari telinganya, telinga kami, atau dari mana saja yang dia inginkan… Aku dan adikku yang masih polos dan lugu, juga ganteng (jadi tahu khan kenapa aku ganteng sampai sekarang? karena dari kecil aja sudah ganteng, red.) selalu terkesima jika pamanku ini sudah beraksi… Amazing banget bagi kami saat itu… Yang akhirnya membuat aku penasaran… How come he did it?

Sialnya lagi saat itu paman gak mau buka rahasianya… Sebab emang sih kalau dikasih tau, maka hilanglah pesonanya sekian persen bagi kami keponakannya…

Aku yang sedari kecil memang suka penasaran (tapi gak kepo) akhirnya tanpa bertanya lagi, mencoba melakukannya…

Waktu pada mengumpul di ruang keluarga, kuambil stip dan berdiri di hadapan bapak, emak dan Pak Man…

“Budi bisa juga.” Kataku, dan jleb, kumasukkan stip yang ukurannya sekitar 1,5 X 1,5 cm itu kedalam mulut dan langsung kutelan…

Emakku berteriak, dan Pak Manku panik…

Sementara karet penghapus tadi sudah masuk ke kerongkonganku… Aku panik… Terjengal, tersela, tersedak…

Pamanku itu berusaha membuka mulutku dan mencoba meraih stip tadi… Tapi telat… Stip tersebut sudah tertelan…

Dan mataku berair setelah menelan tanpa air…

Lalu aku disuruh minum…

Pak Man lantas diomelin…

Hehehe…

Sejak saat itu aku gak mau pura-pura bisa sulap lagi… Pak Man pun akhirnya buka rahasia sulapnya itu… Stip itu tidak benar-benar dimakan, namun disembunyikan di belakang lehernya… Di tengkuk… Asem…

Yang kusesali adalah stip yang aku telan adalah penghapus kesayanganku yang baunya harum sekali…

Nyaris saja kusuruh Pak Man menunggui toilet untuk mengubek kotoranku besok-besoknya untuk mencari stip tersebut… Dan harus dia pakai untuk permainan sulapnya… Hahaha… Gaklah, aku gak sejorok itu…

But, Pak Man ini tetap paman favoritku… Walau bukan pak mude yang menghadiahi kami macam-macam atau suka ngasi duit lebih… Tapi kebaikan dan kebesaran hati tak dinilai dengan itu… I love you, Pak Man…

Btw, ngomongin jorok ntar aku cerita deh soal kejorokanku yang lain…

Sekarang mau balik ke rumah dulu, masih tugas Manajer on Duty nih… Mau antar Puan ke sekolahnya dulu…

Thanks ya, sudah mau baca ceritaku ini…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *