Mengenal Masyarakat Independen

Masyarakat Independen, mahluk apa itu?

Dalam politik, seorang independen atau politikus non-partai adalah seseorang yang tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Biasanya cenderung untuk berpikiran berdasarkan sudut pandang yang berbeda mengenai masalah-masalah yang timbul di masyarakat, masalah yang tidak diperhatikan oleh partai-partai penguasa legislatif.

Politikus independen bisa saja merupakan anggota suatu partai atau mantan anggota partai yang menolak untuk berdiri di bawah nama partainya atau mungkin saja orang ini mendukung suatu partai namun memiliki keyakinan bahwa tidak harus mewakili partai secara formal.

Belum lama ini terbentuk sebuah komunitas yang menamakan dirinya Masyarakat Independen.
Pertanyaannya kita yang tergabung atau ingin bergabung di Masyarakat Independen (MI), komunitas ini merupakan independen model apa?

Saat ini masyarakat menginginkan adanya calon kepala deerah alternatif. Banyak masyarakat sudah terlanjur kecewa dengan partai politik yang dianggap kurang memperhatikan nasib mereka.

Oleh sebab itu, sama halnya dengan arti calon independen, MI harus diterjemahkan sebagai bentuk peringatan bagi partai politik agar dapat berubah menjadi lebih baik. Apalagi aturan yang memperbolehkan adanya calon independen dalam Pilkada terlahir di saat kredibelitas partai politik sedang merosot. Banyak skandal yang melibatkan anggota dewan yang telah menjadi kepala daerah, menambah pemikiran masyarakat menjadi gamang dalam memihak kepada partai yang selama ini mereka kenal.

Walau sesungguhnya partai politik tidak semuanya menunjukkan sikap pragmatisme tersebut. Beberapa partai politik tetap merupakan lembaga yang disukai sebagian masyarakat karena keberadaannya sudah dikenal sejak lama. Apalagi jika memiliki kedekatan faktor ideologis.

Dan keberadaan calon independen dapat memotivasi partai politik untuk melumasi mesinnya, sehingga kinerja partai politik dapat meningkat dan bekerja lebih baik.

Para aktivis partai politik adalah kalangan masyarakat yang tidak menyukai keberadaan calon independen dalam Pilkada. Sikap ini muncul karena para aktivis partai politik merasa tersaingi keberadaannya dengan calon independen.

MI membuka kesempatan bagi para elit lokal yang tidak memiliki mesin politik resmi (partai politik) untuk maju sebagai calon kepala daerah dengan basis dukungan dari rakyat daripada mereka menyewa mesin politik (partai politik). Apalagi kemudian ruang gerak elit politik lokal terbatasi karena persyaratan dari partai politik terkadang susah dipenuhi. Sudah menjadi rahasia umum kalau faktor kunci memenangkan proses seleksi kepala daerah dari partai politik dipengaruhi oleh faktor materil (uang) dan non materil (lobby). Padahal tidak semua elit lokal merupakan elit yang memiliki materi yang berlebih serta memiliki kemampuan lobby atau memiliki tim lobby yang kompeten.

Pada dasarnya MI yakin elit lokal biasanya memiliki modal sosial. Modal sosial ini berupa ketokohan, kepribadian dan kepercayaan. Singkatnya modal sosial tersebut adalah apa yang sering disebut sebagai kalangan antropolog sebagai kewibawaan tradisional. Dengan modal ini elit lokal lebih mudah mendapatkan dukungan dari masyarakat. Hanya jika mereka bekerja sendiri sangat sulit dan makan banyak biaya serta waktu untuk melakukan itu. MI muncul sebagai rasa peduli untuk menyingkirkan halangan tersebut.

MI berkomitmen untuk:
1. Mencari figur elit lokal
2. Membuat komitmen perjuangan
3. Mengusung
4. Memperjuangkan

Calon dari MI itu idealnya merupakan calon alternatif yang menjadi anti thesis dari keberadaan calon kepala daerah yang berasal dari jalur mesin politik (partai politik). Calon yang diusung tidak boleh habis-habisan menggunakan modal materilnya untuk mendapatkan dukungan masyarakat. MI berkomitmen untuk membantu menggalang dana bagi mulusnya kerja calon tersebut, kemudian memperjuangkan semua aspirasi yang jadi landasan serta tujuan terbentuknya komunitas ini.

Calon independen yang MI harapkan adalah yang sejak awal menjaga independensinya terhadap kepentingan politik sesaat, harus konsisten untuk tidak maju dari jalur partai politik karena yakin pada dukungan rakyat.

Calon dari MI perlu mendapat ketegasan mengingat filosofis dasar keberadaan calon independen adalah untuk meningkatkan kualitas demokrasi dan kualitas Pilkada sebagai sarana sirkulasi elit dalam pemerintahan lokal.

Makna calon independen bisa menjadi makna istimewa jika calon kepala daerah benar-benar merupakan representasi kepentingan publik yang muncul karena ketokohan, kepribadian dan kepercayaan. MI haram menjelma menjadi “calon perseorangan” saja sebagaimana istilah formal yang disebutkan dan diatur dalam undang-undang. Calon dari MI harus ingat bahwa kompetisi Pilkada merupakan jalan untuk memenangkan kepentingan rakyat, bukan hanya sebagai jalan memuaskan syahwat politik dan kerakusan ekonomi yang selama ini terjadi di banyak daerah.

Demikianlah sekilas mengenai Masyarakat Independen, yang masih penasaran silahkan bergabung di:

DISKUSI MENEROBOS JALAN PERUBAHAN MELALUI MOMEN PILKADA 2018.
Kegiatan tersebut  akan diselenggarakan pada:

Hari/ Tanggal: SABTU,11 MARET 2017

Pukul: 15.30 – 17.30

Tempat: Kantin Rumah Melayu, Komplek Rumah Melayu Jl. Sutan Syahrir Pontianak

Menghadirkan narasumber:

  1. Very Budiman (Koordinator Masyarakat Independen)
  2. Arief Usmam (Masyarakat Independen)
  3. Ireng Maulana (KOordinartor FORDEB)
  4. Hermayani Putera (Penggiat Lingkungan)
  5. Hidayat Kalijar (aktivis Mahasiswa)
  6. Qodja (Penggemar Kopi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *