Juventus, Per Sempre Sara

Tadi subuh waktu Indonesia, Juventus kembali gagal meraih gelar Liga Champions Eropa setelah dikalahkan oleh Real Madrid dengan skor telak 1-4. Pertandingan yang sebenarnya menarik, terutama di babak pertama. Tapi sebuah kenyataan harus di terima. Juventus kalah. Para fans klub Juventus pasti sedih, namun seorang juventini sejati mengerti apa itu arti sportifitas dan loyalitas.

Bagi saya, seperti NKRI, Juventus itu harga mati… Hehehe…

Bagaimana tidak?

Kecintaan saya pada klub ini dimulai sejak awal 90an…

Sebuah artikel tentang Platini yang muncul di sebuah pelajaran bahasa Perancis yang saya pelajari…

Jadi sudah sekitar 25 tahunan… Terlebih lagi ketika akhirnya Lippi dan Del Piero bergabung dengan klub yang menurut saya klub terhebat di dunia ini… Walau yang nyinyir pasti ngomongnya Juventus hanya pernah dapat 2 piala Champions lah, sering ditolong wasitlah, pernah kena hukuman degradasilah… Tapi tetap, Juventus adalah un grande amore buat saya… Sebuah cinta yang besar…

Mau dia jatuh ke kasta terendah manapun, Juventus adalah cinta…

Masa-masa indah Juventus mungkin adalah masa dimana Lippi dan Del Piero menukangi dan membela Juventus… Kemudian era Buffon, Zidane dan Nedved… Lalu ada banyak pemain sampai era Pogba dan Dybala… That’s why saya gak ragu kasih nama anak yang ada bau Juventusnya… Ratu Natasha Tiar Juventya dan Radja Rayhan Alessandro adalah buktinya… Dua bukti kecintaan gila saya pada bianconeri, sebab untuk mencantumkan nama itu almarhum ayah saya sempat protes sama saya… Terus mobil kijang jantan saya yang bernama Nedved, pick up bergelar Davids, dan tidak lupa kucing kesayangan saya bernama Lippi…

Kisah cinta saya mulai dari Delle Alpi sampai Juventus Stadium…

Mulai dari Lippi sampai Allegri, dan siapapun nanti pelatihnya berganti-ganti…

Hehehe… Dan gak akan berakhir…

Biar logonya berganti ribuan kali…

Kegembiraan ketika Juventus meraih trophi, kesedihan ketika mereka gagal (namun makin gagal rasa cinta itu makin besar) adalah pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan… Bagi saya La Vecchia Signora merupakan jodoh saya sampai kapanpun juga…

Juventus, per sempre sara…

So, kekalahan barusan bukanlah sebuah duka yang membuat hilangnya cinta… Hitam putih tetap warna favorit saya… Buffon (yang ultahnya sama dengan Ray, anak saya) tetap kiper terbaik di dunia walaupun usia membuat refleksnya melambat…

Juventus adalah klub hebat yang selalu bisa membentuk pemain terbuang menjadi pemain berharga… Lihatlah saja pemain-pemain yang disingkirkan klub sebelumnya, malah berhasil menorehkan rekor harga pembelian tertinggi dunia… Pogba misalnya… Belum lagi beberapa eks Juventus yang menjadi pemain terbaik dunia… Dan mantan bintangnya yang sukses menjadi pelatih mancanegara seperti Conte dan Zidane…

So, jangan ragu sama Juventus, wahai para juventini… Jangan mengutuk kekalahan… Sportiflah… Juventus adalah putihnya tulang kita, dan hitamnya biji mata kita… Juventus adalah cinta besar kita… Juventus, storia di un grande amore…

Juventus, per sempre sara…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *