Jebakan Betmen BPJS Kesehatan

Saya mau cerita sedikit nih… Pengalaman pribadi seseorang yang terpaksa harus kantor kami bereskan…

Tadi pas makan siang, saya diajukan untuk approval pengeluaran kantor untuk pembayaran BPJS Kesehatan seorang karyawan klien kami… Jumlahnya lumayan bikin kaget… Rp.2.692.000… Wow…

Klien kami minta dibayarin dulu karena kalau mereka langsung keluarkan maka akan mengganggu audit kantor…

Intinya ini kesalahan HRD mereka dalam peralihan dari status karyawan rekrutan mereka dari sebuah perusahaan outsourcing…

Ok… Akhirnya saya setuju untuk mengeluarkan dana segitu, karena akan dibayar dalam hitungan hari ketika kami tagihkan invoice untuk fee manajemen bulan ini…

Terus kenapa bisa ada tagihan begitu besar?

Ternyata, kesalahan dimulai dengan ‘rencana’ tipu-tipu dari perusahaan outsourcing sebelum karyawan ini bergabung ke perusahaan klien…

Jadi begini…

Klien kami mengharuskan perusahaan OS untuk mengikut sertakan asuransi sesuai ketentuan pemerintah… Standar sih BPJS Kesehatan… Nah, tiap bulan klien kami bayar tuh ke OS tersebut nilai sesuai tagihan dan perhitungan pembayaran bulanan… OS diminta menyerahkan bukti berupa kartu kepesertaan…

Karena niatnya gak bener, si OS malah menyertakan karyawan-karyawan di asuransi BPJS Kesehatan pribadi/umum… Lebih murah karena untuk yang masih lajang hanya bayar tidak sampai 30 ribu, bayangkan dengan karyawan yang mesti bayar di atas 70 ribu untuk sekeluarga… Ketika sudah keluar kartunya dan dilaporkan, pembayaran ke BPJS mereka stop…

Klien kami pikir semua sesuai dengan peraturan, udah keluar kartu peserta, artinya aman…

Karena kinerja baik, karyawan tersebut, sebutlah namanya si Hasan, direkrut menjadi karyawan organik klien kami… Dan sialnya, HRD lupa kalau mestinya tanggungan BPJS karyawan tersebut harus dialihkan… Terlebih lagi karyawan tersebut sekeluarga tidak pernah sakit… Jadi tidak pernah menggunakan layanan BPJS…

Karyawan tersebut memang tidak tahu kalau ternyata dia tidak terdaftar di asuransi…

Pelik juga khan ceritanya…

Sampailah akhirnya si karyawan ini sadar… Bertanya pada perusahaan, mana kartu berobat saya yang baru…

O ooo… orang HRD kelimpungan, cari berkas dan tidak diketemukan… Karyawan ini seperti anak hilang yang tidak dipedulikan dalam hak atas layanan kesehatannya…

Dan singkat cerita ketahuan bahwa karyawan ini yang punya 1 istri dan 3 anak sudah menunggak belasan bulan hingga tercapailah ‘hutang’ iuran kepada BPJS Kesehatan…

Huaaaaaaa…

Bayangkan… Sekian tahun tidak menikmati fasilitas, kemudian ternyata tahu malah punya hutang sekian juta…

Benar-benar terkena jebakan betmen dari BPJS Kesehatan…

Untunglah perusahaan klien kami ini cukup bijak dan sadar kesalahan yang dimulai oleh perusahaan OS rekanan mereka dulu itu… Jadi meminta kami untuk membantu menyelesaikannya…

Barusan karyawan tadi ‘terbebas’ dari kewajiban hutang iuran…

Kembali ke judul…

Ini adalah kali kedua kami membereskan masalah semacam ini… Dulu ada mantan karyawan kami yang tidak bisa kami ikutsertakan ke akun kantor karena ternyata dia sekeluarga menunggak 8 bulan…

Aturan BPJS memang aneh…

Kok yang menunggak tidak dikasih waktu untuk ‘lepas’ dari beban iuran?

Bukannya mereka tidak menikmati pelayanan kesehatan tersebut?

Harusnya kalau mau benar, maka ketika peserta umum/pribadi tidak membayar katakanlah 3 bulan, mereka sudah otomatis dikeluarkan dong… Bukannya mereka juga tidak bisa menerima pelayanan?

Ketika akumulasi menggunung, bukannya itu malah zalim?

Kenapa BPJS Kesehatan ini seperti jadi upaya memeras rakyat kecil?

Pemerintah kok gak berpikir panjang ya soal ini?

Memang gak benar nih BUMN yang satu ini… Apalagi kabar terakhir karyawan mereka malah tidak ikut asuransi mereka sendiri… What?!!

Ada yang punya pengalaman sama seperti pak Hasan?

Kalau saya sih, jika gak kerja, atau punya usaha sendiri, ikutan asuransi lain saja yang tidak memiliki jebakan betmen kayak gini… Ataupun ketika memang harus ikut dengan membayar sendiri, segeralah putuskan kepesertaan ketika tidak sanggup lagi membayar iuran bulanannya, daripada menjadi masalah di kemudian hari…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *