Brain Drain, Efek Dari MEA

BRAIN DRAIN. Ini adalah istilah saat otak-otak terbaik di sebuah bangsa pergi jauh menembus samudera, berangkat ke negeri lain yang menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Brain drain menjadi problem sebab yang pergi ke negeri seberang adalah “best brains” – orang-orang dengan mutu terbaik di negeri itu.

Dan memang biasanya brain drain terjadi karena, negeri yang dituju otak-otak terbaik itu mau menerima mereka dengan senang hati (sebab mereka memang orang dengan mutu original, bukan SDM dengan mutu KW3).

India dan China adalah negara yang sering mengalami brain drain : banyak orang hebat dari dua negara itu yang pergi ke Eropa dan USA, demi masa depan yang lebih baik.

Ribuan best brains itu kemudian membentuk semacam diaspora : jaringan orang-orang terbaik dari negara tertentu yang tersebar di berbagai negara dunia.

Kebijakan pasar tenaga kerja bebas ASEAN membuka peluang besar bagi terbangnya manajer-manajer terbaik negeri ini untuk mengisi beragam posisi manajerial di berbagai negara ASEAN.

Manajer-manajer terbaik negeri ini dalam bidang IT, Financial, Banking, Oil and Gas, Electrical Engineering hingga Supply Chain Management, bisa pelan-pelan melakukan eksodus ke negeri seberang. Gelombang brain drain bisa menyeruak.

Kenapa? Ya karena dengan aturan Skilled Labor Free Flow, perpindahan manajer antar negara ASEAN akan mudah terjadi. Selain itu, jika memang kualifikasi oke, dan perusahaan di negeri seberang mampu memberikan gaji yang jauh lebih gurih, kenapa tidak?

Talent War mungkin berlangsung akan kian keras. Persaingan mendapatkan karyawan dan manajer terbaik tidak hanya dengan sesama perusahaan di dalam negeri – namun juga dengan ratusan perusahaan top di Singapore, Malaysia, Thailand hingga Manila.

Saya membayangkan, pelan-pelan kondisi ini akan membentuk semacam “standar gaji ASEAN” untuk beberapa posisi yang diburu banyak perusahaan. Mau tidak mau perusahaan di Indonesia dipaksa menaikkan standar gaji manajer di tanah air, demi mempertahankan best talents mereka agar tidak kabur ke negara seberang.

Faktor itu yang pada akhirnya akan mempercepat proses kenaikan dramatis standar gaji manajer di Indonesia.

Lalu apa implikasinya bagi Anda?

Simpel. Kalau Anda punya kecakapan bahasa Inggris yang bagus, disertai dengan kompetensi yang unik dan berkelas (kelas dunia maksudnya, bukan kelas KW3), maka Anda bisa juga dengan mudah mendapatkan pekerjaan di Singapore, Malaysia, Bangkok atau Manila. Tentu dengan gaji standar ASEAN (dan bayarannya memakai dolar).

Fenomena brain drain mungkin gejala yang tak terelakkan dalam era pasar bebas tenaga kerja ASEAN dan dalam era yang kian mengglobal.

Dan mungkin kamu, iya kamu – kelas terdidik dan pembaca blog yang cerdas – akan ikut menjadi aktor kunci dari gelombang brain drain itu. Siapa bisa menduga.

Mungkin kelak Anda bisa mendapatkan karir yang bagus di Singapore dengan gaji dolar, dengan tanggung jawab mencakup seluruh pasar ASIA.

Maka suatu ketika Anda bisa seperti ini : sarapan senin pagi di Jakarta sambil membaca blog saya, lalu makan siang di Singapore, dan makan malam di kabin pesawat Airbus A350 dalam penerbangan menuju Osaka, Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *