An Amazing Journey (Part 4)

Setelah disela beberapa tulisan gak penting (sebenarnya gak ada yang penting dari tulisan-tulisan di blog ini kecuali bagi aku sendiri), aku lanjutkan kenanganku ketika umrah dulu…

Tiba di hotel, sebenarnya ingin segera lari ke Masjid Nabawi… Namun mesti berberes dan istirahat sebentar kata bapakku nanti menjelang subuh saja ke sana…

Nabawi ini adalah mesjidnya Nabi Besar Muhammad SAW… Beliau dimakamkan di situ… Begitu pula para sahabatnya…

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah S.A.W, setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah dia dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah S.A.W. tiba di Madinah, yalah di tempat unta tunggangan Nabi S.A.W. menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah S.A.W. untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman dia.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m Rasulullah S.A.W. turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Miniatur dari rekonstruksi Masjid Nabawi sesuai bentuk asal di masa Nabi

Miniatur dari rekonstruksi rumah nabi yang menempel di dinding masjid Nabawi.

Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi S.A.W. Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 29 H. Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² pada tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd pada tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah.

Waktu yang kunantikan tiba… Untuk dapat shalat di mesjid kecintaan rasulullah itu… Kami sekeluarga beserta rombongan lain segera menuju mesjid menjelang azan…

Rasa haru makin terasa… Menyeruak dalam jiwa… Ditambah takjub karena megahnya mesjid itu kini… Ditambah syukur yang tak terhingga karena menjadi orang yang berkesempatan seperti ini…

Mesjid Nabawi seolah menjadi bukti kecintaan umat Islam… Menuju ke sana, hati ini dipenuhi kerinduan yang luar biasa kepada sebaik-baiknya manusia tersebut… Dalam hati aku bershalawat sambil melangkahkan kaki ke sana…

Hotel kami terletak pas di sudut gerbang belakang sebelah kiri pelataran mesjid itu… Tidak terlalu jauh… Kalau jauhpun sebenarnya tidak mengapa untuk aku yang sehat wal afiat, bukankah setiap langkah ke mesjid akan dihitung sebagai pahala?

Ramai orang yang ke mesjid itu… Jumlahnya beratusan ribu… Apalagi musim umrah menjelang Ramadhan seperti saat aku pergi ini… Makin besar ketakjubanku… Makin besar kebanggaanku… Di sini memang gairah ibadah itu terdorong naik, beda di tanah air, (malu aku mengakui) mau ke mesjid rasanya berat sekali…

Masuk ke dalam, aku makin takjub…

Kami yang menyegerakan ke mesjid saja sudah dapat tempat yang di tengah… Agak jauh dari Raudah… Bapakku menunjukkan lokasi Raudah itu… Tempat yang mustajab untuk berdoa…

Secara bahasa, “Raudhah” berarti taman. Raudhah merupakan salah satu ruangan di Masjid Nabawi yang banyak dimasuki jamaah untuk memanjatkan doa. Ia terletak di antara kamar Nabi dan mimbar untuk berdakwah. 

Luas Raudhah dari arah Timur ke Barat sepanjang 22 m dan dari Utara ke Selatan sepanjang 15 m . Luasnya yang hanya 144 meter persegi tak sebanding dengan jutaan jamaah yang berebut ingin masuk ke sana.

Jamaah haji atau umroh yang berada di Madinah, biasanya akan menyempatkan berdoa di Raudhah. Tempat ini tak pernah sepi, menjadi tempat yang paling afdhal untuk memanjatkan doa. 

 

Seperti sabda Rasulullah Saw, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196) . 

 

Mimbar Nabi Muhammad saw

Para ahli hadits menafsirkan taman surga sebagai tempat Allah SWT menurunkan rahmat dan kebahagian-Nya karena dilakukan zikir serta pemujaan kepada Allah SWT. 

 

Satu area di dalam masjid yang dinamakan Raudhah ini ditandai tiang-tiang putih dengan ornamen kaligrafi yang khas dan juga karpet warna hijau yang menutup lantainya. Warna karpet ini berbeda dengan warna karpet Masjid Nabawi yang semuanya berwarna merah.  

Di kawasan ini juga terletaknya maqam junjungan besar kita, Rasulullah saw, juga dua sahabat besar, Saidina Abu Bakar R.A dan Saidina Umar R.A.

Kalau kita tengok dalam Masjid Nabawi, ada 2 kawasan. Satu kawasan masjid asal yang dibina oleh Rasulullah s.a.w dan kawasan selainnya adalah perluasan tambahan yang dilakukan selepas zaman Rasulullah saw. Ia dapat dibedakan dengan tiang-tiang yang terdapat dikawasan tersebut. 

 

kawasan masjid asal yang dibina oleh Rasulullah s.a.w
kawasan perluasan tambahan yang dilakukan selepas zaman Rasulullah saw

Lokasi ‘taman surga’ ini merupakan bagian dari shaf laki-laki, hanya terbuka untuk perempuan di jam tertentu, saat dhuha dan setelah shalat dhuhur. Bukan hal yang mudah untuk bisa memasuki Raudhah. Upaya lainnya adalah usahakan datang ke mesjid pada awal pintu mesjid dibuka. Dengan demikian mempunyai waktu cukup untuk melaksanakan salat Tahajud, salat Tasbih, dan salat Fajar serta melakukan zikir atau membaca Alquran. 

Jika sudah berhasil masuk setelah berjuang berdesak-desakan, jamaah memanfaatkan kesempatan berada di area ini untuk shalat dua rakaat, berdzikir, berdoa maupun membaca Alquran. Suara takbir, tahmid dan tahlil diiringi dengan shalawat kepada Rasulullah saw dan lirihnya doa bercampur jadi satu. 

Jangan lupa, ketika berdo’a di sini (atau di manapun di Masjid Nabawi), janganlah sambil menghadap makam. Menghadaplah ke arah Kiblat. Sementara ketika di depan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah perlu mengusap2 jendela makam dan menciumnya, atau menempelkan dada dan perut, karena syariat Islam sama sekali tidak menuntunkan demikian.Ucapkan saja sebanyak mungkin shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat serta keluarga 


Dibutuhkan kesabaran yang tinggi di Raudhah, karena sudah biasa ketika shalat jamaah lain berdiri didepan kita sehingga tidak bisa ruku’ dan sujud. Duduk berdempetan, tetapi masih ada saja jamaah lain memaksakan diri untuk minta duduk. Kepala/bahu dilangkahi atau tertendang, tangan terinjak dan perlu hati-hati disaat sujud karena sangat berbahaya ketika lehernya terinjak jamaah lain. 

Cara paling aman adalah bersama teman, shalat bergantian dan saling menjaga (dengan menjulurkan tangan) ketika sedang shalat. Kadang-kadang kita saksikan antar jamaah saling melotot dan emosi, disinilah kesabaran kita diuji, tidak selayaknya berantem disaat beribadah ditempat yang sangat mulia ini.  

Kali pertama datang itu tentu saja aku gak bisa ke situ, cuma dalam hati aku berniat harus bisa…

Shalat tahiyatul masjid, dilanjutkan kemudian dengan membaca zikir dan berdoa… Selesai azan, shalat rawatib… Terus tidak lama kemudian shalat subuh… Setelah shalat subuh aku dengar seruan dalam bahasa Arab… Dan serentak orang-orang berdiri… Aku tak tahu kenapa… Lalu ternyata mereka shalat… Shalat tanpa ruku dan sujud… Taulah aku akhirnya mereka sedang shalat jenazah… Sempat kupikir “aneh” karena awalnya mereka akan shalat rawatib lagi yang semestinya tidak ada… Aku hanya duduk saja meneruskan membaca doa dan Al Quran…

Ketika sedang asyiknya aku membaca kitab suci, seorang lelaki mendatangiku… Usianya sepantaran sama bapakku…

Dia menyapaku dengan bahasa melayu…

“Dari mane? Malaysie atau Indonesie?”

Aku menjawab, dan akhirnya terjadilah percakapan di antara kami… Beliau ternyata adalah seorang pembimbing haji dan umrah dari salah satu biro perjalanan besar di Malaysia… Namanya aku lupa… (makanya besok-besok langsung tulis, Rief) Tak lama kemudian bapakku bergabung…

Yang paling bermanfaat dari obrolan ini adalah ilmu yang disampaikan pak Haji dengan wajah bersih ini…

“Tuan mengape tak ikut shalat tadi? Itu shalat jenazah… Tiap-tiap habis shalat fardhu di sini tak ade yang mikirkan rawatibnye… Ikut shalat jenazah lebih penting… Sangatlah… Pahalenye same dengan dua gunung…”

Aduuuuuuh… Meruginya aku pergi umrah tak lengkap ilmu…

Alhamdulillah, pak haji tersebut peduli dengan ketidaktahuanku… Alhamdulillah pula dia berani menyapaku karena menurut dia awalnya dia menyangka aku keturunan Cina… Tapi melihat songkok dan baju yang aku pakai, beliau tak segan untuk menyapaku…

Oh iya, sebagai tambahan, baju yang kupakai adalah baju yang aku gunakan ketika akad nikahku dulu… Baju tua yang untungnya masih muat, kecuali celananya… Kalau sekarang sih kayaknya baik baju dan celana sudah makin sempit… Itu pesan bapakku ketika akan berangkat… “Kau bawak baju akan nikahmu itu, Bud.” Apapun alasan beliau baju ini sungguh bermanfaat… Soal ini ada cerita tambahan di tulisan lainnya…

Sejak itu aku gak tinggalkan shalat jenazah selepas fardhu… Setiap ada panggilan ‘shalati ala al-amwat’ aku segera ikut berdiri dan shalat…

Para pelaku shalat jenazah seolah diajak mendekatkan diri kepada prinsip “ajilu bi al-shalati qabla al-faut, wa ajilu bi al-taubati qabla al-mawt”. “Artinya, salatlah sebelum lupa atau terlambat, dan bertaubatlah sebelum maut menjemput. Atau salatlah sebelum disalatkan,”

Bayangkan ratusan ribu jamaah berdiri untuk sholat jenazah yang sama sekali tidak dikenalnya. Jenazah yang disholatkan bisa satu, dua, tiga, lima atau lebih. Usai sholat jenazah, jenazah langsung digotong ke pemakaman Baqi yang terletak di samping Masjid Nabawi. Jadi penguburan mayat tidak kenal waktu, bisa pagi usai Subuh, siang usai Dzuhur atau Ashar, atau malam usai Maghrib dan Isya. “Beruntunglah” orang yang wafat di kota Madinah karena ia disholatkan di Masjid Nabawi oleh ratusan ribu orang. Padahal jika mayat disholatkan lebih dari 40 orang saja maka dosa-dosanya akan diampuni, ini yang menyalatkan ratusan ribu orang. Peristiwa sholat jenazah setiap kali usai sholat fardhu juga terdapat di Masjidil Haram di kota Mekkah.

DSC05231

Sama warga Madinah yang ramah-ramah…

Selesai mengaji aku diajak bapakku pulang dulu ke hotel agar bisa segera sarapan, jadwal hari ini adalah tour ke beberapa lokasi umum yang didatangi jamaah umrah/haji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *