An Amazing Journey (Part 2)

BIRO PERJALANAN DAN MANASIK

 

Singkat cerita, setelah persiapan yang ringkas dan serah terima kerjaan di kantor serta instruksi kepada Editor Video Mr. Marsis Picasso, aku berangkat ke Jakarta. Dengan bantuan Bu Motiq dapat juga tiket Sriwijaya yang murah, sedang untuk pulang aku booking online Garuda, lumayan murah, namun ujung-ujungnya nomboknya banyak juga karena bawaan balik yang bejibun.

Tiba di Jakarta dijemput mantan supir ayahku, gak ke rumah malah ke Kalimalang, mengantar cetakan WeddingBook sekalian kenalan dengan yang selama ini hanya aku hubungi lewat telepon. Urusan 3 Wedding Book kelar, singgah sebentar ke Megapolitan Mall untuk ketemu teman baikku. Ngobrol di Wendy’s -sudah lama kangen baked potato- sampai sekitar jam 12. (Thanks sudah bela-belain datang)

Lanjut ke Bandung. Sungkeman dulu sama ibu. Ke makam. Terus ketemu dengan teman lama di Toko You, Dago. Dari sore sampai akhirnya maghrib, terus cabut kembali ke Jakarta.

[versi lengkap pamitan dengan soundtrack ada di blog pribadi, hahahaha, kalau di sini bisa banyak yang nangis bombay]

Besoknya diisi dengan shopping dikit (beli sandal gunung dan kacamata murah meriah)

Sore sampai malam barulah ke Restoran Munik untuk menghadiri kegiatan Manasik. (mestinya jangan di restoran seperti ini, di lantai dasar kita manasik, di lantai satu ada yang ulang tahun dan karaoke lumayan kencang)

Namanya Indonesia, ngaret sudah pastilah.

Ayahku, salah satu orang yang paling disiplin soal waktu, dari jam 3 lepas Ashar saja sudah mulai ngomel karena Emak, Eva dan aku belum siap-siap lagi. Jadi begitu sampai di sana tempatnya saja masih belum diberesin pastilah ngomel lagi dalam hatinya.

Tunggu punya tunggu, selepas maghrib dan makan malam barulah Manasik dilaksanakan.

Waktu makan malam kami berkenalan dengan beberapa orang yang ternyata satu rombongan dengan kami nantinya. Juga baru tahu bahwa manasik kali ini disatukan. Kayaknya karena jumlah rombongan kloter kami tidak banyak. Pertama hanya 10 orang, lalu nambah 2 orang yang tidak menggunakan pesawat dari travel, dan 7 orang dari Palu. Kasus pula yang dari Palu ini, ternyata Visa mereka belum keluar sampai saat manasik diadakan. Untunglah pagi besoknya sebelum kami berangkat visanya sudah beres. Cerita mengenai anggota rombongan ini nanti saja di bagian selanjutnya. Kali ini mau fokus ke Travel Agency dan manasiknya itu sendiri.

Pada makan malam itu terungkaplah sesuatu permasalahan. Ternyata brosur di koran hotel yang digunakan adalah hotel bintang 5, namun dari panduan yang kami dapat hanya di hotel bintang 3. Sempat ‘dihasut’ untuk protes sama 3 orang anggota rombongan Jakarta, aku lalu konsultasi sama ayah. Ayahku bilang, tidak tahu dan tidak memperhatikan soal iklan tersebut. Dengan bijaksana beliau berkat; “Sudahlah, yang penting hotelnya enak, toh kita bukannya mau liburan dan butuh hotel yang bintang 5. Nanti waktu kita banyak di mesjid kok.” Sebagai keluarga yang kompak akhirnya kami setuju untuk tidak protes dan minta pindah hotel. Jadi akhirnya yang protes hotel hanya 3 orang ibu-ibu dari Jakarta dan keluarga Palu yang 6 orang. Yang 1 lagi dari Palu ikut dalam kelompok 10 yang tidak minta pindah hotel.

Penasaran, aku konfirmasi sama Pihak Travel, mereka mohon maaf ternyata itu materi iklan yang lama. Cuma karena tanggung jawab mereka, protes dari 9 orang tadi mereka tampung dan memindahkan hotel sesuai permintaan. Semuanya clear.

Travel yang kami pakai, sebut saja namanya GHP, kalau menurut keterangan mereka dan SK yang mereka dapatkan sih mulai bergerak dalam perjalanan haji dan umrah tahun 1996, namun terus terang secara pelayanan mereka masih perlu banyak pembenahan.

Rombongan Palu yang 6 orang protes soal kepastian keberangkatan mereka. Soal Visa yang tadi aku singgung di atas. Namun harus dipahami juga bahwa jumlah pengajuan Visa Umrah selama Ramadhan meningkat pesat. Penyebabnya mungkin karena kuota haji kita yang sepertinya tidak dapat memenuhi keinginan orang Indonesia untuk beribadah haji.

Protes juga berlanjut sepanjang perjalanan, terutama bagi yang terbiasa menikmati kenyamanan. Cerita soal kenyamanan ini di bagian selanjutnyalah.

Yang menarik adalah bagian manasiknya. Sang penyampai manasik (aku lupa namanya, nanti aku lihat di buku panduan) sungguh bisa membuat kita kepingin segera berangkat. Sebab yang utama sekali adalah dia bisa menyelaraskan gelombang bathin kita dengan gelombang yang dipancarkan oleh Mekkah dan Madinah… Air mataku menetes ketika mengumandangkan talbiah (Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka)… Kerinduan itu dibangkitkan… Rasa penyesalan karena menunda kesempatan…

Sang pembimbing manasik ini pula yang akhirnya menyadarkan aku untuk benar-benar ke sana atas niat ibadah, padahal sebenarnya ada keinginan untuk shopping dan membeli macam-macam barang yang katanya murah di sana (memang sebenarnya murah sih), jadi keinginan itu aku redam dan alhamdulillah bisa. (Sebenarnya juga karena gak banyak duit, wakakakaka… Cuma kalau buat beli jam tangan, parfum dan lensa serta flash sudah aku siapkan)

Dan dia bisa meyakinkan aku untuk tidak percaya bahwa kesalahan kita akan diganjar ALLAH SWT di sana. Semuanya dari keyakinan kita saja. Jika kita percaya akan datang, itulah yang akan kita dapatkan. Dan terbukti di perjalanan ini. Nanti aku ceritakan detil, di bagian selanjutnya yang bercerita tentang Umrah dan kehidupan selama di kota-kota suci itu.

Inti dari bagian ini adalah, buat teman-teman yang berencana umrah atau haji ONH Plus (aku doakan kalian semua dapat ke sana), ketika memilih Biro Perjalanan-nya pastikan semua yang didapat ketika mendaftar. Agar tidak ngedumel dan marah-marah ketika ternyata kesalahan itu tidak disengaja.

Kemudian yakinkan bahwa kita ke sana untuk ibadah, bukan untuk bersenang-senang dan liburan, jadi lupakan keinginan shopping segala macam. Dua kali kejadian, adik-adikku malah kehilangan barang yang sudah dibeli dan kehilangan uang untuk membeli barang yang diidam-idamkan.

Dan yang terpenting, yakin bahwa ALLAH SWT itu Maha Pengasih dan Penyayang, mengerti apa yang kita butuhkan, dan pasti memberikan yang terbaik untuk kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *