An Amazing Journey (Part 1)

Karena iri dengan cerita orang-orang balik umrah, adikku Zamhir Islamie beserta Wawa, Mak Teh, juga mertuanya, juga direkturku beserta keluarga besar… Terutama biar aku gak lupa pengalamanku waktu pergi umrah, kali ini kutulis perjalanan tersebut. Mumpung masih dikasih daya ingat sama ALLAH SWT…

( ini pernah dimuat di notes FBku yang anonim)

KEPUTUSAN UNTUK UMRAH

Akhirnya aku sempatkan menulis juga, sepotong pengalaman bathin yang dihasilkan dalam perjalanan luar biasa kemarin.

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa pergi umrah juga.

Rencana yang sekian lama tertunda, keinginan yang selama ini selalu saja dihadapkan oleh kendala.

Mestinya tahun 2006 kemarin aku sudah diajak, tapi entah karena masih ragu, karena masih banyak pikiran dan kegelisahan lelaki muda (yang kenal aku sejak lama, kayak Rovich dan Deni, pasti ngakak), dan yang pasti karena baru saja teken kontrak kerja sama kantor yang sekarang, aku dengan bodohnya mempersulit diri sendiri untuk berangkat. Passport lah, ini itulah, pokoknya benar-benar gak yakin untuk berangkat. Belum lagi kepikiran mending uang untuk itu dibelikan kebutuhan usaha yang sedang berjalan.

Benar-benar pemikiran wajar seorang yang belum yakin untuk datang memenuhi panggilan itu. Seorang yang belum SIAP.

Tahun 2007, ayahku minta ditemankan juga, namun saat itu ada yang lebih perlu ditemani, jadi tanpa banyak alasan aku mundur lagi.

Akhirnya rencana itu memudar. Namun alhamdulillah, waktu itu juga mulai kepikiran untuk bikin tabungan khusus buat langsung Haji saja. Tahun kemarin akhirnya bisa mendaftar, namun mesti sabar (benar-benar mesti sabar karena ternyata sejak menjejakkan kaki ke sana kerinduan itu menjadi besar) hingga tahun 2015 (malah mundur jadi 2017 karena beberapa tahun belakangan kuota haji dikurangi). Itupun jika ada umur, rejeki dan kesehatan. Mohon doa kalian semua teman-temanku sekalian.

Tahun demi tahun terlewati. Sampai kemarin waktu adik bungsuku menikah, ayah bilang ada rencana pergi Umrah, selepas semuanya beres. Ayah nomor satu di dunia itu sudah mulai renta. Beliau bertanya, sudikah menemaninya kembali ke tanah suci itu? Jujur aku sempat berpikir panjang, sebab waktu yang diajukan beliau adalah masa-masa dimana kerjaan utamaku sebagai tukang photo sangat kebanjiran order, sementara pekerjaan(sampingan)ku di kantor juga mesti dibereskan. Belum lagi urusan di rumah.

Kembali lagi jadi dilema.

Untunglah WBP menguatkan hatiku. Berangkatlah, semuanya akan terkendali. (walau ada yang lewat ya, sayang?)

Ya sudah, akhirnya aku urus passport lagi. Mesti mengulang dari awal. Sebab passport yang lama sudah terlalu lama tidak berlaku. Gak pakai nembak, walau agak repot urus sendiri saja. (Untuk yang belum pernah bikin passport; ternyata bikin passport itu hanya butuh kesabaran semata plus uang gak sampai 300 ribu rupiah, oh iya untuk karyawan mesti rekomendasi Direktur Perusahaan/Kantor)

Setelah passport beres, mulai negosiasi waktu sama ayah soal tanggal keberangkatan. Awalnya minta Juli awal. Waduh, ada 4 DP yang aku terima (juga ternyata 2 job dadakan di belakang hari), bagaimana mau dibatalkan? Alhamdulillah, kepikiran untuk Ramadhan di sana. Akhirnya dipilih keberangkatan tanggal 27 Juli 2011 kemarin.

Masalah belum selesai. Ayah tercinta ternyata ingin Umrah yang 12 hari pula, sementara dalam hitunganku 9 hari benar-benar pas. Ya sudah, aku setuju saja. Sebab ternyata penambahan biayanya juga tidak banyak. Beliau juga yang bayarin. Tinggal urusan sama kantor nih. Sebab walau jatah cuti 12 hari itu dimulai 1 Juli, tetap saja udah aku ‘korupsi’ 2 harinya karena job-job musim kawin tadi. Tanya ke HRD, jatahnya tinggal 10 hari saja untuk cuti resmi. Oh My God. Gak bakalan bisa diakalin lagi. Kayaknya mesti nekad bolos dan resiko melanggar pasal penting tidak boleh tidak masuk 5 hari berturut-turut. Mana manager HRD gak kompak lagi sama aku, sebab sampai 3 bulan ke belakang masih perang dingin sama aku.

Tapi ALLAH SWT memberikan jalan, Direktur memanggilku untuk dibikinkan desain Klinik Pribadi-nya. Sewaktu mengantarkan hasilnya, dengan ragu minta ijin sama beliau. Jawabnya melegakan hati, “Kalau kamu minta ijin umrah saya ijinin. Tapi kalau ke Thailand buat senang-senang ya nggak.” Alhamdulillah.

“Tapi ada lagi, Pak.” kataku.

“Apa itu?”

“Saya minta ijin khusus tidak masuk kerja sekitar seminggu di luar cuti.”

“Oh, iya gak apa-apa. Terus pekerjaan kamu?”

“Sudah didelegasikan, Pak.”

“Baiklah.” Beliau kemudian membuat disposisi untuk surat cuti dan ijin tambahan.

Berangkat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *