About My WBP

Kali ini saya mau nulis tentang istri saya…

Wanita yang selalu setia menemani saya sejak 4 Juli 1998 (secara resmi) namun unofficial telah menjadi pelengkap hidup saya sejak 31 Mei 1993…

bunda sayangNamanya Djati, panggilan kesayangan saya untuknya adalah WBP (Wanita berwajah Purnama) atau ma Verte…

Kenapa WBP? Karena seperti rembulan yang bersinar kala purnama, teduh tanpa emosi amarah… Wanita paling pengertian yang pernah aku kenal… Cintanya? Jangan ditanya… Aku beruntung menemukannya…

Aku masih ingat saat-saat pertama aku tertarik padanya… Seorang perempuan sederhana, berkaca mata, bibir merah, rambut sebahu, pakai bando, baju kaos pink muda… Di perpustakaan CCF jl. Purnawarman Bandung… Dia yang ternyata adik angkatan, dan selama ini luput dari pandangan karena banyaknya mojang dan gadis yang seliweran di sisi dan di pandangan…

Dia yang pertama kali menegurku, (maklum aku terpilih sebagai ‘kakak idola’ ketika OPSPEK jurusan) dan saat itu seperti ada yang membisiki aku, “dialah yang kamu cari selama ini”

Dan saat itu aku tidak tahu namanya siapa… #tepokjidat

Baru ingat setelah kami duduk menikmati minuman dan cake di cafe yang baru dibuka di pusat kebudayaan itu…

Ngalor ngidul, akhirnya kami saling tahu bahwa ternyata tempat tinggalnya dan kostku lumayan dekat… Rencananya pulang bareng deh…

Selesai bayar, aku berniat menyetop angkot… Eh dia bilang dia pakai mobil… Oh, ok… Dan ternyata mobilnya bikin aku makin tertarik sama wanita anggun ini… Sebuah Mini Cooper kayak yang dipakai Mr. Bean… Tapi kelirnya warna pink… Wanita yang unik… Makin kenal di kemudian hari, (calon) wanitaku ini ternyata malah sehari-hari bawaannya sebuah Toyota Hardtop warna kuning terang… Mantap…

Sejak itu kami jadi dekat… Selalu say hi kalau berjumpa di kampus… Kadang teleponan jika ada mata kuliah yang aku ngulang dan gak punya catatan… Hehehe… Juga sering dijemput untuk pergi bareng kalau ada mata kuliah yang bareng kami hadiri…

Hobbynya membaca, jadi banyak sekali buku yang bisa aku pinjam… Novel dan komik terbaru, dia pasti punya… Kami juga rutin ke Palasari untuk hunting buku… Rumahnya juga unik, banyak barang antik… Ayahnya seorang dokter keturunan bangsawan Ciamis, sementara ibunya memiliki trah bangsawan dari Jawa Tengah…

Rasa suka beneran baru tumbuh ketika aku diajaknya menghadiri pernikahan temannya… Dia menjemputku ke kost… Aku terpana, wanita yang selalu tampil sederhana itu, siang itu berdandan luar biasa beda… Dengan dress warna ungu dari bahan sari India… Aku masih ingat sekali bagaimana pakaian itu pas ditubuhnya, membuat makin cantik saja…

Sejak hari itu aku mulai fokus, melupakan para kupu-kupu yang terbang di sekelilingku… Arief yang ‘iseng’ jadi mau serius… Makin sering aku menelponnya… Terima kasih untuk telkom yang mengeluarkan kartu telpon yang bisa di-hack… Hehehe…

Cuma, ketika aku sampaikan maksud hatiku… AKU DITOLAK, MEN!!!

Arief ditolak?! Oh my… Pengalaman pertama 🙂

Tapi aku pantang mundur… Walaupun sebenarnya sudah ada seorang dokter yang dekat sama WBP ini… Walaupun beberapa temannya menghembuskan cerita tak sedap tentang aku… Walaupun sepertinya dia bukan seperti rencana awalku yang tidak mau berhubungan serius dengan perempuan yang usianya lebih tua dari aku… Aku telah terpikat pada anak dokter Djatnika ini…

Akhirnya pada tanggal 31 Mei, kegigihanku membuahkan hasil… Dia mau jadi kekasihku… Tanpa syarat, tanpa ketentuan apapun yang biasanya kuterima dari perempuan lain…

Kenapa aku bilang tanpa syarat? Karena selama ini yang bikin kacau hubunganku adalah kecemburuan yang membabi buta dari para pacar… Aku gak boleh sama si ini… Aku gak boleh ngelakuin ini… What?!!

Bersama Djati aku malah nyaman… Dia bisa bagi waktu… Aku punya waktu bersama temanku dan melakukan hobby yang aku sukai… Aku masih bisa terima tamu siapa saja di kostku… Aku bebas bertualang…

Dan itu yang membuatku semakin cinta…

WBP bisa jadi teman yang baik, jadi sahabat yang mau bergabung dengan teman-teman baikku… Bisa menerima gurauan tanpa tersinggung… Bisa jadi penengah ketika ada yang tersinggung…

Dia luar biasa…

Boleh tanya berapa banyak perempuan yang hadir dan menggoda ketika aku bersama dia… Pasti dia jawab dengan senyuman seorang pemenang…

Dan setahuku hanya ada satu orang perempuan yang dicemburuinya selama kami bersama…

Yang lain? Baginya bukan saingan cinta…

WBP…

Wanita ini bisa bikin aku nyaman sepenuh hati… Paling pengertian seperti lagu kebangsaan kami berdua, Pengertian dari Harvey Malaihollo…

WBP, wanita yang gak banyak tingkah, gak banyak mau… Tapi seleranya luar biasa…

Yang bikin aku makin bahagia, makin lama bersama, dia menjelma menjadi semakin baik, semakin luar biasa…

Wanita yang support semua keputusanku… Apa saja…

Wanita yang bersedia menua bersamaku…

Banyak kisah yang kami lewati, banyak pahit yang juga mengiringi… Tapi dia tetap tegar mendampingi…

Ketika masa pacaran saja sepertinya banyak yang menentang kami… Di antara teman juga sepertinya begitu… Maklum, di antara temannya ada yang pernah sangat dekat sama aku, dan mungkin ‘playing victim’ ketika aku akhirnya bersama WBP ini… Untunglah kami, aku dan WBP, punya Rini… (Rini ini kalau menurut kami bertiga adalah istri tua, dan WBP istri muda)

Nyamannya sama WBP, kami bisa dibilang jarang bertengkar… 5 tahun pacaran sepertinya hanya 2 atau 3 kali kami bertengkar… Yang aku ingat banget malah cuma sekali, itu juga karena terjadi di bulan Ramadhan… (mungkin karena merasa marah itu menggugurkan pahala)

WBP… Dari masa pacaran saja dia sudah penuh pengabdian pada orang tuaku… Paling rajin tuh menjemput bapak dan emak kalau berkunjung… Dan satu-satunya kekasih yang aku kenalkan resmi ke orang tuaku…

Aku ingat komentar bapak ketika WBP telah pulang setelah mengantarkan ke hotel langganan beliau, “Jangan main-main lagi, yang ini sudah cocok bagi bapak dan emak…”

Dan itu di kesempatan pertama aku kenalkan…

Dan adik-adikku juga langsung sayang sama dia…

Ah, beruntung sekali aku memiliki WBP… Wanita yang paling sanggup menekan dan bisa menyeimbangkan egoku…

Hari ini WBP berulang tahun… Tak ada hadiah spesial yang dapat aku persembahkan… Tak ada acara makan di luar… Sebab waktu yang sepertinya tidak bisa diluangkan… WBP seharian fokus mengurus bapakku yang sedang sakit dan lemah… Tugasnya mengurus makan dan kebutuhan bapak, juga emak… Dan hanya ku’bayar’ dengan pelukan setiap dia akan berangkat ke rumah di gang Amanah, dan kecupan sayang seorang suami yang sangat dia cinta…

Ciuman mesra di pagi hari ketika dia sedang berdandan, hanya itu hadiahnya… Semoga malam selepas anak-anak latihan, kami bisa merayakan sekeluarga…

Wanita pengertian ini adalah wanita yang membukakan pintu surga bagiku… Wanita sederhana tanpa tuntutan make up dan perhiasan dan asesoris berjuta-juta… Wanita luar biasa yang kebahagiaannya bisa diraih dengan hal-hal simple saja… Wanita baik yang selalu ingin belajar menjadi istri dan bunda shaleha… Wanitaku, Wanita Berwajah Purnama…

( terima kasih sayang, terutama untuk tiga orang buah cinta kita )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *